
RollingStock.ID – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) memperkirakan, laba bersih sepanjang 2026 melonjak 56 persen menjadi USU336 juta dari laba bersih 2025 senilai USD215, kendati pemerintah berencana menurunkan harga gas alam cair (LNG) domestik untuk pelanggan industri menjadi USD13 per mmbtu.
Mengutip pada data proyeksi keuangan PGAS, pendapatan perseroan untuk Tahun Buku 2026 hanya sebesar USD3,86 miliar atau lebih rendah 2,9 persen dibandingkan dengan realisasi di sepanjang 2025 yang mencapai USD3,976 miliar. Sementara itu, EBITDA di 2026 diproyeksikan menurun tipis menjadi USD700 juta dari USD719 juta pada 2025.
Meski pendapatan dan EBITDA diperkirakan melemah, namun laba bersih PGN justru diestimasikan melonjak 56,3 persen menjadi USD336 juta dari USD215 juta pada tahun Buku 2025. Kenaikan ini tercermin pada pertumbuhan laba per saham (EPS growth), berbalik dari kontraksi sebesar 37 persen pada Tahun Buku 2025.
Rencana pemerintah memangkas harga LNG domestik menjadi USD13 per mmbtu dari sebelumnya sebesar USD21 per mmbtu, sempat dibarengi dengan koreksi harga saham PGAS karena pasar mengkhawatirkan penurunan margin distribusi. Sejumlah pelaku pasar beranggapan, sentimen negatif ini sebagian besar sudah tercermin pada harga saham PGAS.

Margin distribusi diyakini memang akan menyempit —serupa dengan skema Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT)— tetapi kecil kemungkinan berubah menjadi negatif karena pemerintah akan menyesuaikan margin pelaku hulu. Penyesuaian ini akan melibatkan pemasok LNG domestik, seperti Donggi-Senoro LNG (DSLNG) di Sulawesi Tengah dan Bontang LNG di Kalimantan Timur.
Bahkan, tanpa intervensi pemerintah sekali pun, harga LNG diyakini memang akan menurun seiring dengan pelemahan harga acuan Japan Korea Marker (JKM) dari USD21 per mmbtu menjadi sekitar USD16 per mmbtu dalam beberapa waktu terakhir. Para pelaku pasar memperkirakan, kebijakan pemerintah tersebut hanya akan berlaku hingga Desember 2026, meski rincian resmi masih menunggu pengumuman.
Dari sisi profitabilitas, tingkat pengembalian ekuitas (ROE) PGAS diproyeksikan kembali ke level 12 persen pada 2026, setelah menurun menjadi 8 persen pada 2025. Sekadar mengingatkan, angka tersebut setara dengan ROE yang dicatat pada 2024. Valuasi saham PGAS juga diperkirakan menjadi lebih menarik, dengan rasio price to earnings (PER) diprediksi menurun menjadi 5,7 kali pada 2026 dari 8,8 kali pada 2025.
Prospek positif tersebut diperkirakan berlanjut pada Tahun Buku 2027, dengan jumlah pendapatan bisa mencapai USD4,33 miliar dan laba bersih meningkat menjadi USD359 juta. Namun pada 2028, laba bersih diperkirakan akan mengalami penurunan tipis menjadi USD346 juta, meski kinerja pada area top line bisa bertumbuh menjadi USD4,39 miliar. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
