
RollingStock.ID – PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) mengaku sudah menyiapkan transformasi bisnis di 2026 dengan meninggalkan usaha perhotelan maupun wisata religi untuk beralih ke bisnis jasa pelayaran komoditas tambang. Langkah ini ditempuh pasca perseroan mencatatkan kinerja yang tidak optimal dan memicu kerugian berkelanjutan, serta mencatatkan arus kas negatif maupun penurunan ekuitas.
Pengakuan FITT itu tertuang di dalam Business Plan PT Hotel Fitra Internasional Tbk 2026 yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam dokumen ini, manajemen perseroan mengungkapkan bahwa anak usaha di sektor hotel dan wisata religi belum mampu memberikan kontribusi positif terhadap kinerja keuangan. Entitas usaha FITT, PT Bumi Majalengka Permai (BMP) masih merugi akibat persaingan, sedangkan PT Fitra Amanah Wisata (FAW) belum beroperasi secara komersial.
Manajemen menyatakan, kondisi tersebut mendorong perseroan untuk melakukan divestasi atas dua anak usahanya itu dan mengubah model bisnis menjadi perusahaan holding yang fokus pada kepemilikan saham dan pengelolaan investasi. FITT berencana melepas seluruh kepemilikan sahamnya pada BMP dan FAW, masing-masing sebesar 99,99 persen dan 99,96 persen, setelah memperoleh persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) yang akan digelar pada 12 Maret 2026.
Lebih lanjut manajemen Fitra Hotel menyampaikan, dana hasil divestasi akan dialokasikan untuk mengakuisisi 28 persen saham PT PSI, perusahaan pelayaran yang bergerak di bidang pengangkutan bijih nikel dan batu kapur di wilayah Sulawesi Tenggara. Ekspansi ke sektor pelayaran akan didukung belanja modal sebesar Rp200 miliar untuk pengadaan enam unit kapal tongkang dan satu unit tugboat.
Emiten yang saat ini berada di bawah kendali PT Jinlong Resources Investment (JRI) ini menjelaskan bahwa armada tersebut akan melayani rute Kendari-Langara dan Raha-Baubau, kawasan yang berada di sekitar pusat cadangan nikel nasional. Manajemen FITT mengaku, kebutuhan angkutan komoditas tambang di wilayah tersebut bersifat nyata dan berkelanjutan.
Perusahaan yang dipimpin Joni Rizal sebagai direktur utama ini memproyeksikan, bisnis pelayaran akan menjadi sumber pendapatan utama baru. Pendapatan diperkirakan bisa mencapai Rp76,98 miliar pada 2026 dan meningkat menjadi rata-rata Rp141,13 miliar per tahun pada periode 2027-2030. Laba bersih diproyeksikan bertumbuh dengan margin yang meningkat dari 3,88 persen pada 2026 menjadi 14 persen pada Tahun Buku 2030, dengan estimasi laba setelah pajak mendekati Rp19 miliar sampai Rp20 miliar per tahun mulai 2027.
Selain itu, FITT juga menargetkan periode pengembalian investasi (payback period) sekitar dua hingga tiga tahun setelah armada beroperasi penuh. Proyeksi ini didasari asumsi setiap kapal melakukan tiga kali pelayaran per bulan, dengan rata-rata volume angkut sebanyak 9.800 metrik ton dan tarif senilai Rp68.000 per ton. Model bisnis berbasis kontrak jangka menengah hingga panjang diharapkan menghasilkan pendapatan berulang yang lebih stabil dibandingkan bisnis sebelumnya.
Kendati demikian, manajemen menyatakan, keberhasilan transformasi sangat bergantung pada sejumlah faktor, termasuk keberhasilan divestasi anak usaha lama dan kelancaran pembiayaan pengadaan kapal. Perseroan mengakui adanya risiko, apabila proses divestasi tidak berjalan sesuai rencana atau pendanaan perbankan mengalami penyesuaian, sehingga bisa mempengaruhi timeline ekspansi. Guna mengantisipasi hal tersebut, manajemen membuka opsi pembiayaan alternatif seperti leasing maupun kerja sama operasi. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
