
RollingStock.ID – Selama tiga bulan pertama tahun ini, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) menderita rugi bersih Rp1,14 triliun atau membengkak 45,7 persen (year-on-year), sehingga per 31 Maret 2026 jumlah defisit meningkat menjadi Rp20,43 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan WIKA untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, emiten BUMN Karya di bawah kendali PT Danantara Asset Management (Persero) ini hanya membukukan pendapatan Rp2,6 triliun atau anjlok 16,4 persen dibandingkan Kuartal I-2025 yang mencapai Rp3,11 triliun.
Seiring dengan penurunan kinerja pada area top line tersebut, beban pokok pendapatan tercatat ikut menurun 17,9 persen (y-o-y) menjadi Rp2,37 triliun, sehingga laba bruto di Kuartal I-2026 menjadi Rp238,36 miliar atau masih lebih tinggi 3 persen dibandingkan Kuartal I-2025 senilai Rp231,34 miliar.
Pada periode Januari-Maret 2026, WIKA mencatatkan rugi usaha Rp27,31 miliar atau berbanding terbalik dengan periode Januari-Maret 2025 yang bisa meraih laba usaha Rp509,41 miliar. Sementara itu di 1Q26, perseroan mencatatkan rugi sebelum pajak penghasilan Rp1,17 triliun alias melonjak 49,9 persen (y-o-y).
Dengan adanya beban pajak penghasilan di 1Q26 sebesar Rp2,54 miliar, maka rugi periode berjalan yang dicatatkan WIKA menjadi Rp1,17 triliun atau meningkat 49,3 persen (y-o-y). Adapun besaran rugi yang diatribusikan ke pemilik entitas induk di Kuartal I-2026 sebesar Rp1,14 triliun atau membengkak 45,7 persen dibandingkan rugi bersih di Kuartal I-2025 senilai Rp780,18 miliar.
Akibat adanya rugi bersih Rp1,14 triliun tersebut, maka defisit WIKA per 31 Maret 2026 menjadi Rp20,43 triliun atau mengalami kenaikan dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 yang mencatatkan akumulasi rugi sebesar Rp19,29 triliun.
Per 31 Maret 2026, jumlah ekuitas WIKA hanya senilai Rp516,09 miliar atau ambles 69,4 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 sebesar Rp1,69 triliun. Hingga akhir Kuartal I-2026, total liabilitas mencapai Rp48,17 triliun atau lebih rendah 0,6 persen (y-t-d).
Hingga akhir Maret 2026, total aset perseroan tercatat Rp48,68 triliun atau menurun 2,9 persen (y-t-d), dengan jumlah kas dan setara kas tersisa Rp1,46 triliun atau melorot dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp2,75 triliun.
Apabila mengacu pada cash flow di periode Januari-Maret 2026, penurunan kas tersebut terutama dipengaruhi adanya arus kas operasi yang negatif sebesar Rp1,12 triliun atau mengalami kenaikan dibandingkan periode Januari-Maret 2025 yang mencatatkan arus kas bersih digunakan untuk aktivitas operasi senilai Rp675,25 miliar.
Mengutip catatan laporan keuangan WIKA di Kuartal I-2026, emiten BUMN ini terindikasi memiliki permasalahan pada kelangsungan usaha. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, Bursa Efek Indonesia (BEI) pun memutuskan untuk melakukan penghentian sementara (suspensi) terhadap perdagangan saham WIKA di seluruh pasar yang terhitung sejak Sesi I perdagangan 18 Februari 2025.
Sekadar mengingatkan, sebelumnya WIKA menunda pembayaran Sukuk Mudharabah Berkelanjutan II Tahap II Tahun 2022 Seri A dan Obligasi Berkelanjutan II Tahap II Tahun 2022 Seri A yang jatuh tempo pada tanggal 18 Februari 2025. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
