
RollingStock.ID – Sepanjang 2025, PT Hillcon Tbk (HILL) menderita rugi bersih mencapai Rp1,03 triliun atau berbanding terbalik dengan setahun sebelumnya yang masih bisa meraih laba bersih senilai Rp5,49 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan HILL untuk periode yang berakhir 31 Desember 2025, emiten di bawah kendali PT Hillcon Equity Management membukukan pendapatan usaha sebesar Rp3,46 triliun alias melorot 12,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2024 sebesar Rp3,95 triliun.
Saat kinerja di area top line tersebut melemah, beban pokok pendapatan justru tercatat membengkak 13,9 persen (year-on-year) menjadi Rp3,87 triliun. Dengan demikian, kondisi ini membuat kinerja HILL di 2025 berbalik mencatatkan rugi bruto Rp417,78 miliar dari setahun sebelumnya meraih laba bruto Rp543,8 miliar.
Pada periode Januari-Desember 2025, beban usaha perseroan melambung 285,6 persen (y-o-y) menjadi Rp1 triliun, sehingga menekan kinerja operasional yang memicu terjadinya rugi usaha Rp1,42 triliun dari laba usaha Rp284,42 miliar di periode Januari-Desember 2024.
Tekanan di Tahun Buku 2025 pun berlanjut, tercermin dari adanya rugi sebelum pajak sebesar Rp1,43 triliun alias berbanding terbalik dengan Tahun Buku 2024 yang masih mampu mencatatkan laba sebelum pajak senilai Rp103,48 miliar.
Dengan adanya manfaat pajak (neto) di 2025 sebesar Rp137,5 miliar, maka rugi tahun berjalan yang dicatatkan HILL menjadi Rp1,29 triliun, berbalik dari laba tahun berjalan Rp5,87 miliar pada 2024.
Adapun besaran rugi bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk untuk Tahun Buku 2025 mencapai Rp1,03 triliun atau berbalik negative dibandingkan Tahun Buku 2024 yang bisa meraup laba bersih senilai Rp5,49 miliar.
Akibat adanya rugi bersih Rp1,03 triliun tersebut, maka per 31 Desember 2025 perseroan mengalami defisit saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya mencapai Rp425,95 miliar atau memburuk dibandingkan per 31 Desember 2024 yang mencatatkan saldo laba Rp605,38 miliar.
Per 31 Desember 2025, jumlah ekuitas HILL tercatat Rp419,4 miliar atau ambles 75,5 persen dibandingkan per 31 Desember 2024 sebesar Rp1,71 triliun. Hingga akhir 2025, total liabilitas mencapai Rp4,88 triliun atau membengkak 6,9 persen (y-o-y), yang didominasi kewajiban jangka pendek Rp3,24 triliun.
Sampai akhir Desember 2025, total aset emiten yang sahamnya dimiliki investor individu Lie Harjono dan Lu Xu ini tercatat sebesar Rp5,3 triliun atau melorot 15,6 persen (y-o-y), dengan jumlah kas dan setara kas tersisa 12,21 miliar atau nyungsep 72,5 persen dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2024 yang sebesar Rp44,49 miliar.
Seiring pelemahan kinerja tersebut, auditor pun menyoroti adanya ketidakpastian material yang dapat menimbulkan keraguan signifikan terhadap kemampuan HILL dalam mempertahankan kelangsungan usahanya. Dalam laporan auditor disebutkan, perseroan mengalami penurunan ekuitas hingga 75,5 persen, lantaran dipicu kerugian dan defisiensi modal (ekuitas negative) yang dialami anak usahanya, PT Hillconjaya Sakti.
Selain itu, auditor juga menyoroti belum terpenuhinya sejumlah syarat pembatasan keuangan (financial covenant) atas perjanjian kredit bank, proses PKPU yang masih menunggu hasil putusan terkait kreditur, serta pembekuan izin usaha pertambangan (IUP) pelanggan utama yang menyumbang 45 persen terhadap pendapatan HILL di 2025. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
