Serapan Lahan Industri Greater Jakarta Capai 36,74 Hektare pada Kuartal II-2026

Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Pasar properti industri di Greater Jakarta tetap menunjukkan ketahanan pada Kuartal II-2026 di tengah aktivitas transaksi yang melambat dan iklim investasi yang semakin selektif. Serapan lahan industri mencapai 36,74 hektare, mencerminkan bahwa investor tetap aktif menjajaki peluang investasi.

Laporan tersebut disampaikan Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto di Jakarta, Rabu (5/8). Dia mengatakan, pasar industri Greater Jakarta bukan sedang mengalami perlambatan secara menyeluruh, namun pasar memasuki fase investasi baru.

Dia menegaskan, perusahaan semakin mengutamakan kepastian operasional, kesiapan infrastruktur dan keberlanjutan bisnis jangka panjang sebelum memutuskan berekspansi. “Saat ini, fokus pasar bukan lagi pada besarnya volume transaksi, melainkan pada kualitas keputusan investasinya,” kata Ferry.

Menurut Ferry, saat ini pasar industri berada pada fase transisi, ketika kualitas investasi menjadi lebih penting dibandingkan besarnya volume transaksi. Investor masih melihat Indonesia sebagai tujuan investasi yang menarik, tetapi semakin mengutamakan kepastian regulasi, kesiapan infrastruktur dan efisiensi operasional jangka panjang sebelum merealisasikan investasi.

Lebih lanjut dia mengatakan, permintaan lahan industri masih didukung oleh sektor-sektor yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang, meliputi pusat data, logistik, industri kendaraan listrik beserta rantai pasoknya, elektronik, barang konsumsi cepat saji (FMCG), layanan Kesehatan dan ekspansi dari perusahaan yang telah beroperasi.

Ferry mengungkapkan, sektor-sektor tersebut berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi struktural Indonesia, digitalisasi, konsumsi domestik dan penguatan rantai pasok. Pada sisi pasokan, total lahan industri di Jakarta dan sekitarnya tercatat tetap berada di kisaran 18.500 hektare pada Kuartal II-2026, karena tidak ada kawasan industri baru yang selesai dibangun selama periode tersebut.

Dia menilai, pengembang juga lebih berfokus pada optimalisasi land bank yang telah dimiliki melalui pengembangan bertahap, penyesuaian masterplan, serta alih fungsi lahan secara selektif untuk menyesuaikan kebutuhan okupier. Menurut Ferry, kawasan industri dengan utilitas andal, kapasitas listrik memadai, konektivitas yang kuat dan kepastian operasional, semakin diminati investor dari sektor data center dan manufaktur berteknologi maju.

Ferry menambahkan, saat ini Colliers memperkirakan bahwa pasar industri Greater Jakarta tetap didukung oleh besarnya perekonomian domestik Indonesia, perluasan infrastruktur digital dan keberlanjutan pengembangan hilirisasi industri. Namun, tegas dia, realisasi investasi akan semakin ditentukan oleh kepastian regulasi, efisiensi proses perizinan, percepatan pembangunan infrastruktur dan kesiapan utilitas. (*)

Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top