
RollingStock.ID – Harga tembaga melonjak ke level tertinggi dalam satu bulan di perdagangan hari ini, seiring meningkatnya kekhawatiran atas kenaikan biaya produksi akibat lonjakan harga energi dan pelemahan dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan laporan Reuters dari Beijing, Selasa (14/4), kontrak tembaga paling aktif di Shanghai Futures Exchange (SHFE) ditutup meningkat 2,05 persen ke level 101.190 yuan atau setara USD14.844,43 per ton metrik, setelah sempat menyentuh 101.450 yuan pada awal sesi yang menjadi level tertinggi sejak 11 Maret 2026.
Sementara itu, harga tembaga acuan untuk kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) juga tercatat menguat 0,97 persen menjadi USD13.180 per ton pada pukul 14.18 WIB dan sempat mencapai USD13.208 per ton yang merupakan posisi tertinggi sejak 3 Maret 2026.
Kenaikan harga logam merah ini didorong kekhawatiran bahwa konflik di Timur Tengah akan terus mendorong harga energi lebih tinggi, sehingga meningkatkan biaya produksi secara keseluruhan terutama di sektor pertambangan dan pengolahan.
Sejumlah analis mencatat, perang di kawasan Timur Tengah telah meningkatkan biaya produksi bagi Codelco sebagai produsen tembaga terbesar dunia sekitar 10 sen per pound, sedangkan Antofagasta juga memperingatkan lonjakan biaya bahan bakar dan input lainnya.
Pasar pun turut mencermati pengetatan pasokan asam sulfat yang semakin tertekan, setelah muncul laporan bahwa pemasok utama dari China akan menghentikan ekspor mulai Mei 2026 dan kondisi ini berpotensi mengganggu produksi tembaga maupun nikel secara global.
Dari sisi demand, China menunjukkan peningkatan permintaan yang kuat, tercermin dari premi tembaga di Yangshan yang melonjak 76 persen secara mingguan menjadi USD74 per ton pada 13 April 2026 atau merupakan level tertinggi sejak Juni 2025.
Nikel Shanghai melesat 3,91 persen%, menyentuh level tertinggi sejak 13 Maret 2026, sedangkan harga di London mencapai posisi puncak sejak 2 Maret 2026 di USD17.840 per ton usai Indonesia sebagai pemasok utama merevisi formula harga referensi mineral.
Selain itu, pelemahan dolar AS yang terkait dengan harapan meredanya ketegangan antara Amerika dan Iran memberikan dukungan luas bagi logam dasar. Tim negosiasi AS dan Iran diperkirakan bisa kembali ke Islamabad pada pekan ini atau beberapa hari setelah pembicaraan sebelumnya menemui jalan buntu.
Tren penguatan juga terlihat pada logam dasar lainnya di Shanghai, aluminium tercatat meningkat 0,75 persen, timbal menguat 0,51 persen timah melonjak 2,52 persen dan seng mengalami kenaikan 0,95 persen, sedangkan di London terpantau aluminium melompat 0,73 persen, timbal meningkat 0,78 persen, timah mengalami kenaikan 1,07 persen dan seng menguat 1,36 persen. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
