Meski Dihantui Tekanan Biaya & Risiko Kredit, Laba Bersih BRI (BBRI) 1Q26 Naik 13,8%

bbri2
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Selama tiga bulan pertama tahun ini, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) membukukan laba bersih Rp15,49 triliun atau mengalami kenaikan 13,7 persen dibandingkan dengan capaian di Kuartal I-2025 senilai Rp13,62 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan BRI untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, bank BUMN yang sahamnnya dimiliki Indonesia Investment Authority (INA) ini mencatatkan pendapatan bunga dan syariah sebesar Rp52,84 triliun atau bertumbuh 5,9 persen dibandingkan Kuartal I-2025 senilai Rp49,87 triliun.

Di tengah peningkatan pendapatan bunga tersebut, beban bunga dan syariah yang dicatatkan BBRI justru 9,3 persen (year-on-year) menjadi Rp12,68 triliun, sehingga pendapatan bunga dan syariah bersih (NII) meningkat meningkat 11,9 persen (y-o-y) menjadi Rp40,15 triliun.

Selama periode Januari-Maret 2026, pendapatan jasa asuransi (neto) sebesar Rp280,4 miliar atau anjlok 26 persen (y-o-y). Adapun pendapatan dari penjualan emas (neto) melesat 265,1 persen (y-o-y) menjadi Rp1,51 triliun, dengan total pendapatan emas senilai Rp33,09 triliun dan beban pokok Rp31,58 triliun, mencerminkan margin 4,6 persen.

Pada Kuartal I-2026, total pendapatan operasional lainnya tercatat Rp12,37 triliun atau merosot 5,9 persen (y-o-y), sedangkan total beban operasional lainnya membengkak 11,1 persen (y-o-y) menjadi Rp22,14 triliun. Kenaikan ini antara lain berasal dari beban tenaga kerja yang meningkat 9,5 persen (y-o-y) menjadi Rp11,69 triliun, serta beban umum dan administrasi yang membengkak 10,6 persen (y-oy).

Selain itu, beban penyisihan kerugian penurunan nilai atas aset keuangan di Kuartal I-2026 sebesar Rp12,32 triliun alias relatif stabil dibandingkan dengan Kuartal I-2025 yang sebesar Rp12,64 triliun. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang tetap tinggi ini sekaligus mengidikasikan bahwa risiko kredit belum mengalami penurunan secara signifikan.

Secara keseluruhan, laba operasional di Kuartal I-2026 tercatat Rp20,06 triliun atau mengalami kenaikan 13,9 persen (y-o-y). Setelah memperhitungkan beban non-operasional sebesar Rp74,24 miliar, maka laba sebelum beban pajak di 1Q26 menjadi Rp19,99 triliun atau meningkat 15 persen (y-o-y).

Dengan adanya beban pajak di Kuartal I-2026 sebesar Rp4,35 triliun, laba bersih periode berjalan BBRI menjadi Rp15,63 triliun alias bertumbuh 13,8 persen (y-o-y). Adapun besaran laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk di 1Q26 sebesar Rp15,49 triliun atau mengalami kenaikan 13,7 persen (y-o-y).

Dari sisi neraca, total aset BRI per 31 Maret 2026 mencapai Rp2.249,83 triliun atau meningkat 5,4 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 sebesar Rp2.135,37 triliun. Penyaluran kredit hingga akhir Kuartal I-2026 senilai Rp1.497,27 triliun bertumbuh terbatas 2,5 persen (year-to-date).

Hingga akhir Maret 2026, total liabilitas tercatat Rp1.904,77 triliun atau mengalami kenaikan 5,6 persen (y-t-d), dengan simpanan nasabah meningkat 6,02 persen (y-t-d) menjadi Rp1.555,12 triliun. Peningkatan simpanan ini terutama berasal dari deposito berjangka yang bertumbuh 15,2 persen (y-t-d) dan pinjaman yang diterima meningkat 23,4 persen (y-t-d) menjadi Rp159,41 triliun.

Pada Kuartal I-2026, BBRI mencatatkan kerugian belum direalisasi atas Efek yang diukur melalui penghasilan komprehensif lain sebesar Rp3,04 triliun, sehingga berdampak besar terhadap total penghasilan komprehensif lain yang menjadi negatif sebesar Rp1,89 triliun. (*)

Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top