Kuartal I-2026, BNI (BBNI) Derita Kerugian Nilai Wajar Mencapai Rp4,48 Triliun

bbni2
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) -(Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Selama tiga bulan pertama tahun ini, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menderita kerugian yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar aset keuangan mencapai Rp4,48 triliun dalam penghasilan komprehensif lain (OCI) atau berbalik dari untuk Rp765 miliar di Kuartal I-2025.

Dengan demikian, kondisi tersebut memiliki dampak yang memicu laba komprehensif mengalami penurunan tajam hingga 56,2 persen menjadi Rp2,67 triliun di Kuartal I-2026 dari Rp6,1 triliun pada tiga bulan pertama 2025.

Berdasarkan laporan keuangan BNI untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, bank BUMN yang sahamnya dimiliki investor individu Winarno Tjajadi ini mencatatkan pendapatan bunga mencapai Rp18,99 triliun atau meningkat 13,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2025 sebesar Rp16,71 triliun.

Seiring dengan peningkatan pendapatan bunga tersebut, beban bunga ikut mengalami kenaikan 15,9 persen (year-on-year) menjadi Rp7,97 triliun. Dengan demikian, pendapatan bunga bersih (NII) yang dibukukan BBNI di Kuartal I-2026 menjadi Rp11,03 triliun atau bertumbuh 12,1 persen (y-o-y).

Pada periode Januari-Maret 2026, total pendapatan operasional lainnya tercatat Rp5,66 triliun atau meningkat 11,4 persen (y-o-y). Sementara itu, pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) mencapai Rp2,42 triliun atau lebih tinggi 37,4 persen (y-o-y).

Selama tiga bulan pertama di 2026, total beban operasional lainnya sebesar Rp7,48 triliun atau membengkak 11 persen (y-o-y), sehingga laba operasional menjadi Rp6,9 triliun atau mengalami kenaikan 5,4 persen (y-o-y). Laba sebelum beban pajak di 1Q26 tercatat Rp6,88 triliun atau meningkat 5,6 persen (y-o-y).

Dengan adanya beban pajak (neto) di Kuartal I-2026 sebesar Rp1,2 triliun, maka laba bersih periode berjalan yang dicatatkan BBNI menjadi Rp5,69 triliun atau bertumbuh 5 persen (y-o-y). Adapun besaran laba periode berjalan yang diatribusikan ke pemilik entitas induk di 1Q26 sebesar Rp5,66 triliun atau lebih tinggi 5,2 persen dibandingkan laba bersih 1Q25 senilai Rp5,38 triliun.

Penyaluran kredit BNI per 31 Maret 2026 tercatat Rp919,3 triliun atau hanya bertumbuh 2,2 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 senilai Rp899,5 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) hingga akhir Kuartal I-2026 sebesar Rp1.100,6 triliun meningkat 5,7 persen (year-to-date). Dengan demikian, loan to deposit ratio (LDR) menjadi 83,6 persen atau menurun dari 86,4 persen pada akhir 2025.

Dari sisi posisi keuangan, total aset BBNI per 31 Maret 2026 tercatat Rp1.426,8 triliun atau meningkat 4,7 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 sebesar Rp1.362,1 triliun. Hingga akhir Kuartal I-2026, total liabilitas sebesar Rp1.260,8 triliun atau bertumbuh 6,3 persen (year-to-date), sedangkan jumlah ekuitas tercatat melorot 5,9 persen (y-t-d) menjadi Rp165,9 triliun dan kas tersisa Rp11,6 triliun atau anjlok 13,1 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 senilai Rp13,4 triliun. (*)

Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top