
RollingStock.ID – Harga minyak dunia anjlok sekitar 4 persen, seiring munculnya sinyal stabilitas di kawasan Timur Tengah usai dua kapal berhasil melintasi Selat Hormuz, sedangkan harga emas justru menguat setelah pelaku pasar kembali memburu aset safe-haven di tengah ketidakpastian geopolitik.
Berdasarkan laporan Reuters di New York, Selasa (5/5) atau Rabu (6/5) pagi WIB, harga minyak mentah berjangka Brent ditutup melorot USD4,57 atau sebesar 4 persen menjadi USD109,87 per barel, sementara itu minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) merosot USD4,15 atau sebesar 3,9 persen ke posisi USD102,27 per barel.
Pada saat yang sama, harga emas spot tercatat meningkat 0,8 persen menjadi USD4.557,56 per ons pada pukul 24.31 WIB, setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam lebih dari satu bulan. Kontrak berjangka emas Amerika Serikat juga menguat 0,8 persen menjadi USD4.568,5 per ons, menurut laporan Reuters di Bengaluru.
Pergerakan dua komoditas utama tersebut mencerminkan perubahan sentimen pasar yang cepat terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah. Harga minyak terkoreksi setelah muncul tanda-tanda stabilitas di Selat Hormuz dan pemerintah AS menyatakan gencatan senjata dengan Iran tetap berlangsung.
Analis dari Ritterbusch and Associates menilai, pelemahan harga minyak dipicu optimisme pasar terhadap keberlanjutan gencatan senjata, meski penurunan tersebut juga dipandang sebagai koreksi teknikal setelah lonjakan tajam harga Brent dalam sepekan terakhir.
Sementara itu, penguatan emas didorong aksi bargain hunting usai tekanan jual sebelumnya, ditambah lagi dengan peningkatan permintaan aset safe-haven akibat rapuhnya kondisi geopolitik. Analis American Gold Exchange, Jim Wyckoff mengatakan, pasar tetap mencermati perkembangan konflik, meski fokus investor secara bertahap mulai bergeser ke data ekonomi global.
Ketegangan di Timur Tengah tetap tinggi, setelah Uni Emirat Arab (UEA) melaporkan adanya serangan rudal dan drone dari Iran, walaupun Teheran membantah tuduhan tersebut. Pemerintah AS menyatakan gencatan senjata tetap bertahan, meski sempat terjadi baku tembak saat pasukan AS membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth mengklaim, jalur pelayaran di Selat Hormuz berhasil diamankan dan ratusan kapal kini mengantre untuk melintas. Sebelum konflik meningkat pada 28 Februari 2026, sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur strategis tersebut setiap hari.
Militer AS juga mengonfirmasi dua kapal dagang berbendera AS berhasil melintasi Selat Hormuz dengan pengawalan kapal perang angkatan laut. Namun, Iran membantah klaim AS tersebut. Perusahaan pelayaran Maersk menyebut kapal berbendera AS Alliance Fairfax telah berhasil melintas dengan pengawalan militer.
Di arena diplomatik, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mulai membahas rancangan resolusi yang didukung AS dan Bahrain. Resolusi ini membuka kemungkinan pemberian sanksi terhadap Iran hingga opsi penggunaan kekuatan militer, jika ancaman terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz terus berlanjut.
Harga minyak yang tetap bertahan di level tinggi dinilai berpotensi memicu tekanan inflasi global dan menunda pelonggaran kebijakan moneter bank sentral. Kondisi ini tentunya menjadi perhatian pasar emas, karena logam mulia secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi.
Analis City Index, Fawad Razaqzada menyatakan, permintaan terhadap aset safe-haven tetap bertahan meski pengaruhnya mulai berkurang, karena saat ini emas semakin sensitif terhadap sentimen risiko pasar. Namun, pembelian berkelanjutan yang dilakukan bank sentral dan kebutuhan lindung nilai terhadap inflasi diperkirakan mampu menahan penurunan harga emas lebih dalam.
Sejauh ini para pelaku pasar sedang wait and see sejumlah data ekonomi dari AS, termasuk laporan persediaan minyak mingguan dan data ketenagakerjaan. Analis memperkirakan, cadangan minyak mentah AS menurun 3,3 juta barel pada pekan yang berakhir 1 Mei 2026, sedangkan data tenaga kerja akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan mendatang. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
