
RollingStock.ID – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan laba bersih (konsolidasian) sebesar Rp29,55 triliun pada Semester I-2026 atau meningkat terbatas sebesar 1,8 persen dibandingkan periode yang sama di 2025 senilai Rp29,02 triliun. Namun di balik pertumbuhan laba tersebut, sejumlah indikator profitabilitas BCA menunjukkan pelemahan, mulai dari penyusutan NII, penurunan ROA dan ROE hingga kenaikan CIR.
Berdasarkan laporan keuangan BBCA untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026, tekanan profitabilitas juga tercermin dari pendapatan bunga dan syariah bersih (NII) yang merosot menjadi Rp42,51 triliun dari Rp42,58 triliun pada Semester I-2025. Penurunan ini terjadi karena beban bunga membengkak 8,08 persen (y-o-y) menjadi Rp7,25 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan bunga dan syariah yang hanya naik 0,92 persen (y-o-y) menjadi Rp49,77 triliun.
Mengacu pada materi paparan manajemen BBCA yang disampaikan secara online, Selasa (28/7), NIM mengalami penurunan menjadi 5,3 persen pada Semester I-2026 dari 5,8 persen pada periode yang sama di 2025. Sementara itu, Risk Adjusted NIM menyusut menjadi 4,8 persen dari 5,3 persen.
Untuk sisi profitabilitas, pada Semester I-2026 tingkat return on asset (ROA) menurun menjadi 3,8 persen dari 4,1 persen pada Semester I-2025, sedangkan return on equity (ROE) melemah menjadi 24,1 persen dari 25,2 persen. Adapun cost to income ratio (CIR) meningkat menjadi 29,3 persen dari 29,1 persen, mencerminkan kenaikan beban operasional relatif terhadap pendapatan. Meski demikian, Cost of Credit (CoC) gross bertahan di level 0,5 persen, sedangkan CoC setelah recovery membaik menjadi 0,3 persen dari 0,4 persen.
Menurut Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, total kredit BBCA dan entitas anak mencapai Rp1.036 triliun atau bertumbuh 8 persen (year-on-year), sekaligus menjadi pertama kalinya kredit BCA menembus level Rp1.000 triliun. “Kinerja BCA pada paruh pertama 2026 ditopang berbagai hal, seperti BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor,” ucapnya.
Pertumbuhan kredit terutama berasal dari pembiayaan produktif yang meningkat 11 persen menjadi Rp802 triliun. Kredit korporasi bertumbuh 13,6 persen menjadi Rp513,4 triliun, sedangkan kredit komersial dan usaha kecil dan menengah (UKM) meningkat 6,6 persen menjadi Rp288,5 triliun.
Rasio loan at risk (LAR) tercatat membaik menjadi 4,9 persen dari 5,7 persen, sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL) gross menuru menjadi 1,9 persen dari 2,2 persen. Rasio expected credit loss (ECL) terhadap total kredit juga membaik menjadi 3 persen dari 3,5 persen, meski NPL coverage sedikit merosot menjadi 165,5 persen dari 167,2 persen.
Pada sisi pendanaan, dana giro dan tabungan (CASA) meningkat 10,2 persen menjadi Rp1.082 triliun. Pertumbuhan tersebut mendorong total dana pihak ketiga (DPK) meningkat 7,9 persen menjadi Rp1.284 triliun. Porsi CASA terhadap total pendanaan juga meningkat menjadi 85,2 persen dari 83,4 persen, yang membantu menjaga biaya dana tetap kompetitif.
Di luar pendapatan bunga, BBCA mencatat pertumbuhan pada bisnis berbasis komisi. Pendapatan non-bunga mencapai Rp13,2 triliun hingga Juni 2026 atau meningkat 11 persen dibandingkan periode yang sama di 2025. Dalam laporan keuangan BBCA, total pendapatan operasional lainnya tercatat Rp13,55 triliun alias meningkat dari Rp12,3 triliun pada Semester I-2025. Peningkatan terutama ditopang kenaikan pendapatan provisi dan komisi bersih menjadi Rp10,33 triliun dari Rp9,42 triliun, serta pendapatan transaksi pada nilai wajar melalui laba rugi yang meningkat menjadi Rp2,05 triliun dari Rp1,82 triliun.
BBCA juga melanjutkan ekspansi pembiayaan berkelanjutan. Kredit hijau (green financing) meningkat 19 persen menjadi Rp123 triliun, lantaran didorong pembiayaan sektor energi baru terbarukan yang melonjak 82 persen menjadi Rp7,7 triliun. Selain itu, pembiayaan kendaraan bermotor listrik bertambah 25 persen menjadi Rp4 triliun. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
