BUVA Minta Investor Setor Dana Lagi Lewat Rights Issue Rp1,54 Triliun di Saat Laba Bersih 1H26 Nyungsep 90%

buva2
PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) kembali meminta tambahan dana dari pemegang saham melalui Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PM-HMETD II) alias rights issue sebesar Rp1,54 triliun. Aksi korporasi ini dilakukan kurang dari setahun usai BUVA menyelesaikan rights issue sebelumnya pada November 2025, ketika kinerja laba bersih Semester I-2026 justru nyungsep 90 persen (y-o-y).

Berdasarkan keterangan resmi BUVA yang diterbitkan di Jakarta, Senin (3/8), emiten milik pengusaha Hapsoro Sukmonohadi (Happy Hapsoro) ini menawarkan sebanyak 6,15 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham. Dengan demikian, melalui aksi korporasi ini perseroan berpotensi meraup dana Rp1,54 triliun.

Manajemen BUVA menyampaikan, pemegang saham pengendali PT Nusantara Utama Investama hanya akan melaksanakan 2,4 miliar HMETD dari total 3,76 miliar HMETD yang menjadi haknya, sedangkan sisa saham akan dialokasikan kepada pemesan tambahan dan pembeli siaga.

Permintaan tambahan modal tersebut muncul ketika profitabilitas BUVA mengalami penurunan signifikan, tercermin dari laba bersih Semester I-2026 yang ambles 90 persen menjadi Rp8,14 miliar dari Rp81,12 miliar pada Semester I-2025. Penurunan ini terjadi meski pendapatan di 1H26 bertumbuh 4,71 persen (y-o-y) menjadi Rp173,95 miliar.

Pelemahan laba BUVA terutama dipengaruhi menyusutnya kontribusi laba dari entitas asosiasi. Pos ini tercatat menurun drastis menjadi hanya Rp1,99 miliar pada Semester I-2026 dari Rp77,1 miliar pada Semester I-2025. Pada saat yang sama, BUVA juga masih membukukan rugi selisih kurs sebesar Rp18,52 miliar dan beban keuangan Rp2,15 miliar yang ikut menekan laba sebelum pajak.

Dari sisi balance sheet, kondisi likuiditas juga menunjukkan perubahan, ditunjukkan pada kas dan setara kas per 30 Juni 2026 tersisa Rp230,78 miliar dari Rp285,25 miliar pada 31 Desember 2025. Aset lancar menurun 16,8 persen menjadi Rp254,01 miliar, sedangkan total liabilitas membengkak menjadi Rp575,58 miliar dari Rp556,12 miliar.

Kendati demikian, dana hasil rights issue tidak sepenuhnya diarahkan untuk memperkuat posisi kas maupun modal kerja, karena manajemen BUVA menyampaikan bahwa sebagian besar dana tersebut akan dialokasikan untuk ekspansi, termasuk penyertaan modal dan akuisisi aset di kawasan Uluwatu, pembangunan proyek Uluwatu Estate, renovasi Hotel Alila Ubud dan pengembangan kawasan wisata di Bintan.

Adapun dana yang dialokasikan untuk pembayaran dipercepat pokok utang sebesar Rp417,8 miliar atau sekitar seperempat dari total dana yang akan dihimpun melalui rights issue kali ini.

Pada sisi cash flow periode Januari-Juni 2026, BUVA masih aktif menggelontorkan dana aktivitas investasi yang tercatat negatif Rp97,2 miliar, terutama digunakan untuk penambahan aset dalam pembangunan, investasi pada entitas anak dan uang muka pembelian aset tetap. Selain itu, kas dari aktivitas pendanaan juga masih negatif Rp18,2 miliar akibat pembayaran pinjaman bank dan liabilitas sewa.

Dengan kondisi tersebut, saat ini investor kini kembali dihadapkan pada keputusan untuk menambah dana guna mempertahankan kepemilikan sahamnya atau menerima risiko dilusi hingga 20 persen. Pada saat yang sama, dana baru yang dihimpun emiten milik Happy Hapsoro ini akan lebih banyak digunakan untuk mendukung ekspansi jangka panjang, ketika laba bersih ambles 90 persen. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top