Aset Bank Mandiri (BMRI) Susut Rp302 Triliun Akibat Dekonsolidasi BSI (BRIS)

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatat total aset per 30 Juni 2026 menyusut Rp302,38 triliun menjadi Rp2.527,57 triliun, setelah PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) atau BSI tidak lagi dikonsolidasikan sejak 1 Februari 2026. Meski skala neraca mengecil, BMRI tetap membukukan laba bersih 1H26 sebesar Rp30,41 triliun atau meningkat 24,33 persen (y-o-y).

Berdasarkan laporan keuangan BMRI untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026, total aset Bank Mandiri menurun menjadi Rp2.527,57 triliun dari Rp2.829,95 triliun pada posisi 31 Desember 2025. Pada saat yang sama, kredit yang diberikan dan piutang/pembiayaan syariah (bruto) menyusut 11,86 persen menjadi Rp1.630,5 triliun dari Rp1.849,97 triliun pada 31 Desember 2025.

Setelah dikurangi cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN), kredit bersih BMRI per 30 Juni 2026 tercatat Rp1.600,81 triliun atau merosot 11,48 persen dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 yang mencapai Rp1.808,4 triliun.

Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh tidak lagi dikonsolidasikannya laporan keuangan BRIS sejak 1 Februari 2026, setelah BMRI kehilangan pengendalian atas entitas anak tersebut. Dampaknya, sejumlah pos utama dalam laporan keuangan konsolidasian, seperti aset, kredit, dana pihak ketiga, pendapatan syariah hingga CKPN, mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.

Pada sisi pendanaan, saldo giro per akhir Semester I-2026 tercatat menurun 4,44 persen menjadi Rp636,55 triliun dari Rp666,11 triliun pada akhir Desember 2025. Tabungan menyusut 6,33 persen menjadi Rp582,52 triliun dari Rp621,91 triliun, sedangkan deposito berjangka melorot 11,58 persen menjadi Rp467,62 triliun dari Rp528,87 triliun.

Dari sisi pendapatan, total pendapatan bunga dan pendapatan syariah pada 1H26 sebesar Rp72,9 triliun atau terperosok 10,64 persen dibandingkan Rp81,58 triliun pada 1H25. Penurunan tersebut terutama disebabkan penurunan pendapatan syariah mencapai 83,54 persen menjadi Rp2,04 triliun dari Rp12,39 triliun setelah BRIS tidak lagi dikonsolidasikan.

Sebaliknya, pendapatan bunga konvensional di Semester I-2026 bertumbuh 2,43 persen menjadi Rp70,86 triliun dari Rp69,18 triliun pada Semester I-2025, didukung kenaikan pendapatan bunga kredit sebesar 6,02 persen menjadi Rp57,58 triliun dari Rp54,31 triliun.

Sejalan dengan itu, pendapatan bunga bersih dan pendapatan syariah bersih (NII) di Semester I-2026 menurun 8,67 persen menjadi Rp47,84 triliun dari Semester I-2025 yang mencapai Rp52,38 triliun. Penurunan ini sekaligus mencerminkan hilangnya kontribusi bisnis syariah dalam laporan keuangan konsolidasian setelah dekonsolidasi BRIS.

Kendati NII merosot, BMRI tetap membukukan peningkatan profitabilitas, ditunjukan oleh laba operasional di 1H26 yang meningkat 16,81 persen menjadi Rp39,06 triliun dari capaian di 1H25 yang senilai Rp33,44 triliun. Sementara itu, laba sebelum pajak meningkat menjadi Rp39,04 triliun dari Rp33,52 triliun. Laba periode berjalan tercatat Rp31,63 triliun atau melompat 17,8 persen dari Rp26,85 triliun.

Adapun besaran laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk di Semester I-2026 mencapai Rp30,41 triliun atau meningkat 24,33 persen dibandingkan dengan laba bersih Semester I-2025 yang sebesar Rp24,46 triliun.

Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) net konsolidasian yang dicatatkan BMRI per 30 Juni 2026 sebesar 0,42 persen atau membaik dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 yang sebesar 0,43 persen. Untuk Bank Mandiri secara individual (bank only), rasio NPL net berada pada level 0,4 persen.

Nilai kredit BMRI yang direstrukturisasi per 30 Juni 2026 tercatat menurun 20,84 persen menjadi Rp78,48 triliun dari Rp99,14 triliun pada 31 Desember 2025. Kredit restrukturisasi terkait Covid-19 merosot 88,95 persen menjadi Rp1,65 triliun dari Rp14,93 triliun, sedangkan kredit restrukturisasi yang masuk kategori NPL menurun 22,57 persen menjadi Rp7,17 triliun dari Rp9,26 triliun.

Sementara itu, CKPN kredit per akhir Semester I-2026 mengalami penurunan 19,92 persen menjadi Rp38,46 triliun dari Rp48,03 triliun, antara lain dipengaruhi oleh dampak dekonsolidasi BSI. Selama Semester I-2026, BMRI menghapusbukukan kredit macet Rp2,82 triliun (bank only). Pada sisi lain, BMRI membukukan penerimaan kembali atas pokok kredit yang sebelumnya telah dihapusbukukan sebesar Rp2,47 triliun.

Per 30 Juni 2026, total ekuitas BMRI konsolidasian tercatat menurun 10,5 persen menjadi Rp293,02 triliun dari Rp327,39 triliun pada 31 Desember 2025. Penurunan ini dipengaruhi pembagian dividen Tahun Buku 2025 sebesar Rp35,15 triliun, serta dampak kehilangan pengendalian atas BSI yang mengurangi ekuitas Rp23,73 triliun. Pada sisi lain, transaksi tersebut justru meningkatkan tambahan modal disetor sebesar Rp111,95 miliar. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top