
RollingStock.ID – PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) membukukan lonjakan laba bersih pada Semester I-2026. Namun di balik pertumbuhan profit yang mencapai hampir 76,77 persen, kualitas kinerja GJTL masih menyisakan catatan karena arus kas dari aktivitas operasi justru anjlok hampir separuh dibandingkan periode yang sama di 2025.
Berdasarkan laporan keuangan GJTL untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026, emiten ban kendaraan ini mencatatkan laba bersih yang diatribusikan ke pemilik entitas induk melonjak 76,77 persen menjadi Rp796,37 miliar dari Rp450,5 miliar pada Semester I-2025.
Lonjakan laba bersih tersebut ditopang pertumbuhan penjualan bersih di 1H26 menjadi Rp9 triliun dari Rp8,52 triliun pada 1H25, serta peningkatan laba bruto menjadi Rp1,9 triliun dari Rp1,59 triliun. Selain itu, beban keuangan bisa ditekan menjadi Rp194,45 miliar dari Rp241,49 miliar, sedangkan keuntungan selisih kurs (neto) di 1H26 meningkat menjadi Rp115,33 miliar dari Rp36,86 miliar pada 1H25.
Namun demikian, kemampuan emiten di bawah kendali Denham Pte Ltd ini dalam menghasilkan kas dari kegiatan operasional justru melemah signifikan. Kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi selama enam bulan pertama di 2026 hanya Rp409,02 miliar atau anjlok 49,87 persen dibandingkan Rp815,89 miliar pada periode yang sama di 2025.
Penurunan tersebut terjadi setelah kas yang dihasilkan dari operasi menyusut menjadi Rp914,26 miliar dari Rp1,23 triliun, sedangkan pembayaran bunga dan beban keuangan pada Semester I-2026 membengkak menjadi Rp310,81 miliar dari realisasi di Semester I-2025 senilai Rp211,52 miliar.
Likuiditas GJTL per 30 Juni 2026 juga tertekan, ditunjukkan dari jumlah kas dan setara kas yang senilai Rp859,07 miliar atau lebih rendah dibandingkan per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp925,2 miliar. Dalam laporan arus kas, penurunan bersih kas dan setara kas selama selama enam bulan pertama tahun ini mencapai Rp189,15 miliar.
Dari sisi balance sheet, total liabilitas GJTL per 30 Juni 2026 tercatat Rp12,58 triliun alias membengkan dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 yang senilai Rp11,21 triliun. Kenaikan ini terutama dipengaruhi lonjakan utang bank jangka pendek menjadi Rp1,14 triliun dari Rp574,79 miliar, serta kenaikan utang usaha kepada pihak ketiga menjadi Rp2,73 triliun dari Rp2,05 triliun.
Sementara itu, aktivitas investasi Gajah Tunggal terpantau masih menyerap dana dalam jumlah besar, tercermin dari arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas investasi mencapai Rp896,5 miliar, terutama berasal dari pembayaran uang muka pembelian aset tetap sebesar Rp688,3 miliar dan perolehan aset tetap senilai Rp221,03 miliar.
Pada sisi pendanaan, emiten Lo Kheng Hong ini meraih kas bersih sebesar Rp298,33 miliar. Selama periode Januari-Juni 2026, perseroan menerima pinjaman bank jangka panjang sebesar Rp3,15 triliun, namun juga melakukan pembayaran utang obligasi sebesar Rp2,82 triliun dan pelunasan utang bank jangka panjang Rp281,03 miliar. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary
