
RollingStock.ID – Perbandingan fundamental lima saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni TLKM BMRI, ASII, INDF dan JSMR menunjukkan masing-masing emiten memiliki keunggulan berbeda dari sisi skala usaha, pertumbuhan kinerja, profitabilitas maupun valuasi berdasarkan data usai penutupan perdagangan Jumat (10/7).
Dari sisi ukuran perusahaan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) masih menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar mencapai Rp377 triliun. Lalu diikuti PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebesar Rp245,7 triliun, PT Astra International Tbk (ASII) senilai Rp194,7 triliun, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) Rp59,5 triliun dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) Rp19,7 triliun.
Pada penutupan perdagangan 10 Juli 2026, saham TLKM berakhir di level Rp2.480 atau melemah 1,2 persen. BMRI juga menurun 1 persen menjadi Rp4.080, sedangkan ASII menjadi satu-satunya saham yang menguat, yakni sebesar 1,4 persen ke Rp4.810. Adapun INDF dan JSMR masing-masing terkoreksi 2,3 persen ke Rp6.775 dan sebesar 1,1 persen ke Rp2.720 per saham.
Dari sisi pergerakan harga, BMRI menjadi saham yang paling dekat dengan level tertinggi dalam satu pekan atau hanya berjarak 0,2 persen dari puncaknya. Dalam periode satu bulan, ASII menunjukkan kinerja harga paling stabil karena hanya berada 3,4 persen di bawah level tertinggi bulanan.
Sementara itu, INDF menjadi saham yang paling jauh dari level terendah satu bulan, yakni mencapai 11,1 persen di atas titik terendahnya, sehingga kondisi ini sekaligus mencerminkan pemulihan harga yang relatif lebih kuat dibandingkan dengan empat saham lainnya.
Pada aspek pertumbuhan bisnis, INDF mencatat pertumbuhan pendapatan tertinggi sebesar 7,4 persen di Kuartal I-2026, sedangkan TLKM masih mampu membukukan pertumbuhan positif sebesar 1,5 persen. Sebaliknya, BMRI, ASII dan JSMR masing-masing mencatat pertumbuhan pendapatan negatif mencapai 8 persen, sebesar 5,6 persen dan sebesar 0,2 persen.
Kinerja pertumbuhan laba bruto juga menunjukkan pola yang berbeda. JSMR memimpin dengan pertumbuhan 9,6 persen dan disusul INDF sebesar 2,5 persen. TLKM membukukan pertumbuhan yang relatif stagnan, sedangkan BMRI dan ASII masing-masing mencatat penurunan 1,5 persen dan sebesar 9,2 persen.
Untuk sisi profitabilitas, JSMR dan TLKM menjadi dua emiten dengan margin operasi tertinggi. Operating profit margin JSMR mencapai 50 persen alias sedikit di atas TLKM yang sebesar 47,4 persen. BMRI mencatat margin operasi sebesar 43,5 persen, sedangkan INDF dan ASII masing-masing sebesar 19,5 persen dan sebesar 13,5 persen.
Sementara itu dari sisi margin laba bersih, BMRI menjadi yang tertinggi, yakni mencapai 31,4 persen. Berikutnya JSMR sebesar 12 persen, TLKM sebesar 11,7 persen, INDF sebesar 8,7 persen dan ASII sebesar 7,4 persen.
Jika dilihat dari kemampuan menghasilkan laba, TLKM mencatat return on assets (ROA) tertinggi sebesar 6 persen, diikuti INDF sebesar 5,2 persen, ASII sebesar 4,5 persen, BMRI sebesar 2,5 persen dan JSMR sebesar 1,9 persen. Namun pada sisi return on equity (ROE), BMRI berada di posisi teratas sebesar 18,9 persen, lalu TLKM 10,9 persen, INDF 9,3 persen, ASII 7,9 persen dan JSMR 4,8 persen.
Secara valuasi, INDF menjadi saham dengan price to earnings ratio (PER) paling rendah, yakni sebesar 5,0 kali. Setelah itu diikuti BMRI diperdagangkan pada PER 6,1 kali, JSMR sebesar 6,4 kali, ASII sebesar 8,3 kali dan TLKM mencapai 14,1 kali. Adapun valuasi berdasarkan price to book value (PBV) menunjukkan JSMR sebagai saham dengan rasio terendah, yakni 0,3 kali. Selanjutnya INDF sebesar 0,5 kali, ASII 0,7 kali, BMRI 1,2 kali dan TLKM 1,5 kali.
Pada sisi struktur permodalan, BMRI memiliki rasio utang terhadap ekuitas (DER) tertinggi sebesar 116,2 persen. Sebaliknya, TLKM mencatat DER terendah sebesar 15,7 persen, lalu diikuti INDF sebesar 16,6 persen, JSMR sebesar 34,5 persen dan ASII mencapai 34,9 persen. (*)
Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary
