Fitch Naikkan Peringkat JPFA Jadi BB-, Kinerja Solid Meski Margin Diprediksi Turun

jpfa
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Fitch Ratings memutuskan untuk menaikkan peringkat PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menjadi BB- (Double B Minus) dari sebelumnya B+ (Single B Plus) untuk Long-Term Issuer Default Rating (IDR). PT Fitch Ratings Indonesia juga menaikkan peringkat nasional JPFA menjadi A+(idn) dari sebelumnya A(idn), dengan prospek “Stabil”.

Berdasarkan pengumuman Fitch yang dikirimkan melalui surat elektronik, Kamis (21/5), kenaikan peringkat tersebut mengikuti selesainya penerbitan obligasi berdenominasi dolar Amerika Serikat yang dilakukan Japfa Pte Ltd yang merupakan pemegang saham pengendali (PSP) JPFA sebesar 55,4 persen.

Fitch menilai, penerbitan obligasi tersebut berpotensi meningkatkan transparansi keuangan Japfa Pte Ltd yang sebelumnya dinilai melemah, setelah perusahaan induk ini diprivatisasi pada 2025. Dengan adanya covenant obligasi, Fitch memperkirakan bahwa kebijakan keuangan Japfa Pte Ltd akan lebih terukur.

Pengumuman Fitch menyebutkan, penilaian tata kelola JPFA pun dinaikkan menjadi kategori “baik” dari sebelumnya “terdapat beberapa kekurangan”, sehingga menghapus penyesuaian negatif satu tingkat pada profil kredit mandiri atau Standalone Credit Profile (SCP) perseroan.

Sebelumnya, penilaian “terdapat beberapa kekurangan” muncul setelah privatisasi Japfa Pte Ltd pada Juni 2025 karena Fitch menilai bahwa langkah tersebut menurunkan transparansi perusahaan dan membatasi kemampuan lembaga pemeringkat dalam mengevaluasi kebutuhan dukungan JPFA kepada induk, terutama karena Japfa Pte Ltd memiliki eksposur terhadap sejumlah bisnis dengan volatilitas lebih tinggi.

Selain faktor tata kelola, Fitch juga memandang bahwa profil perusahaan induk mengalami perbaikan. Operasi Japfa Pte Ltd di Vietnam menunjukkan penguatan dalam dua tahun terakhir, sehingga menurunkan tekanan terhadap JPFA untuk mengalirkan kas ke induk.

Kondisi tersebut juga mengurangi risiko pelonggaran pembatasan arus kas JPFA, setelah refinancing obligasi dolar AS jatuh tempo Maret 2026 menjadi pinjaman bank lokal dengan covenant yang lebih longgar. Fitch mencatat, JPFA tetap membayar dividen, bahkan pada periode yang lebih lemah seperti 2022. Dana dividen tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk menopang operasi Vietnam milik Japfa Pte Ltd yang sempat merugi dan sejumlah lini usaha lainnya.

Operasi di Vietnam berkontribusi sebesar 20 persen terhadap EBITDA Japfa Pte Ltd di sepanjang 2024-2025 dan berhasil pulih cepat dari kerugian pada 2022-2023, berkat peningkatan integrasi operasional, perbaikan biosekuriti dan penurunan harga bahan baku meski sektor tersebut masih menghadapi wabah African Swine Fever berulang.

Lebih lanjut Fitch menilai, perbaikan di Vietnam dapat menekan volatilitas laba Japfa Pte Ltd ke depan. Leverage bersih EBITDA induk usaha JPFA ini diperkirakan sebesar 3 kali atau lebih tinggi dibandingkan pada 2025 di posisi 1,5 kali, namun jauh lebih rendah dibanding kisaran 4-6 kali pada periode 2022-2023.

Pada sisi operasional, Fitch memproyeksikan, kinerja JPFA akan mengalami normalisasi setelah mencatatkan hasil tertinggi pada 2025. Margin EBITDA diproyeksikan menurun menjadi 8,5 persen mulai 2026 dari posisi 12 persen pada 2025. Penurunan ini diperkirakan akibat kenaikan harga bahan baku dan potensi pelemahan permintaan karena tekanan inflasi yang dipengaruhi konflik Timur Tengah.

Kendati demikian, Fitch menyebutkan bahwa kenaikan harga bahan baku masih berada di bawah puncak periode 2022-2023. JPFA dinilai memiliki fleksibilitas melalui penyesuaian komposisi pakan dan kemampuan meneruskan sebagian kenaikan biaya ke pelanggan segmen pakan. Perseroan sempat menyatakan, impor bungkil kedelai sebagai bahan baku utama belum terdampak kondisi global, sedangkan kebutuhan jagung sebagian besar dipenuhi dari pasar domestik.

Profitabilitas JPFA diperkirakan tetap sensitif terhadap fluktuasi harga ayam hidup yang sangat dipengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan domestik. Fitch menyampaikan, kinerja Japfa Comfeed mencapai rekor tertinggi pada 2025 berkat kenaikan harga ungags, seiring meningkatnya permintaan dan pasokan yang lebih seimbang.

Untuk ekspansi, JPFA menyiapkan belanja modal (capex) mencapai Rp10 triliun di sepanjang 2026-2029 dibandingkan realisasi Rp2,7 triliun pada 2025. Rencana tersebut mencakup capex pemeliharaan tahunan sekitar Rp500 miliar-Rp700 miliar, serta investasi ekspansi berupa modernisasi peternakan, peningkatan fasilitas dan pembangunan silo.

Tetapi Fitch menilai, sebagian capex ekspansi dapat ditunda apabila kondisi pasar melemah. JPFA juga dianggap masih memiliki ruang meningkatkan produksi tanpa investasi tambahan besar dan diperkirakan mendanai kebutuhan capex terutama dari arus kas internal dengan ketergantungan terbatas pada pinjaman baru.

Lebih lanjut Fitch menyatakan, JPFA bisa mendapatkan peringkat hingga satu tingkat di atas profil konsolidasi induk berdasarkan metodologi Parent and Subsidiary Linkage (PSL). Penilaian ini didukung struktur pendanaan yang relatif independen dan pemisahan tertentu di tingkat dewan direksi, meski Fitch juga mencatat pembatasan yang relatif longgar pada utang perbankan terkait pembayaran dividen dan transaksi afiliasi.

Untuk sisi bisnis, Fitch menyampaikan, model usaha JPFA yang terintegrasi secara vertikal menjadi salah satu penopang utama profitabilitas. Margin laba operasional segmen pakan unggas mencapai 8,7 persen pada 2025 atau meningkat dari 7,1 persen pada tahun sebelumnya. Margin segmen peternakan komersial juga meningkat akibat tingginya permintaan, sedangkan bisnis hilir dinilai lebih stabil meski kontribusinya lebih kecil dibandingkan operasi hulu.

Dalam asumsi dasar pemeringkatannya, Fitch memperkirakan, margin EBITDA bertahan di angka 8,5 persen, rata-rata capex tahunan sebesar Rp2,6 triliun pada periode 2026-2027, serta rasio pembayaran dividen sekitar 50 persen sampai 55 persen dari laba bersih tahun sebelumnya.

Fitch menegaskan, penurunan peringkat dapat terjadi jika posisi pasar JPFA mengalami pelemahan berkelanjutan, leverage bersih EBITDA meningkat di atas 2,5 kali secara konsisten, profil kredit Japfa Pte Ltd melemah atau hubungan keuangan antara JPFA dan induknya menjadi lebih erat. Sementara itu untuk kenaikan peringkat, Fitch menilai peluangnya kecil dalam jangka menengah.

Pada akhir 2025, emiten poultry ini memiliki kas Rp3,6 triliun, dibandingkan pinjaman jangka pendek Rp2,9 triliun dan utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam 12 bulan sebesar Rp954 miliar. Perseroan juga memiliki fasilitas kredit bergulir yang belum digunakan senilai Rp2 triliun.

Sejauh ini Fitch tidak melihat hambatan signifikan dalam pembiayaan kembali utang jangka pendek, mengingat profil keuangan JPFA yang kuat dan hubungan jangka panjang dengan sejumlah bank besar domestik. JPFA merupakan perusahaan unggas terbesar kedua di Indonesia berdasarkan estimasi perseroan, dengan pangsa pasar sebesar 21 persen pada bisnis pakan unggas dan sebesar 25 persen pada bisnis anak ayam umur sehari (DOC) di 2025. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top