
RollingStock.ID – Selama tiga bulan pertama tahun ini, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) membukukan laba bersih Rp1,82 triliun atau melonjak 166,9 persen dibandingkan dengan capaian di Kuartal I-2025 senilai Rp680,42 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan JPFA untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, emiten poultry di bawah kendali Japfa Pte Ltd ini mencatatkan penjualan bersih Rp17,71 triliun atau meningkat 23,6 persen dibandingkan periode yang sama di 2025 sebesar Rp14,33 triliun.
Sejalan dengan peningkatan kinerja di area top line tersebut, beban pokok penjualan juga ikut meningkat 13,4 persen (year-on-year) menjadi Rp13,19 triliun. Dengan demikian, laba bruto di Kuartal I-2026 menjadi Rp4,52 triliun melompat 67,7 persen dibandingkan Kuartal I-2025 senilai Rp2,69 triliun.
Pada periode Januari-Maret 2026, laba usaha emiten yang sahamnya juga dimiliki Tree of Blessing Pte Ltd dan Bank Julius Baer & Co Ltd ini tercatat Rp2,6 triliun atau melejit 128,2 persen (y-o-y). Sementara itu, laba sebelum pajak penghasilan sebesar Rp2,48 triliun atau melambung 154,2 persen dibandingkan periode Januari-Maret 2025 senilai Rp976,6 miliar.
Dengan adanya beban pajak penghasilan (neto) di 1Q26 sebesar Rp539,88 miliar, maka laba tahun berjalan yang dicatatkan JPFA menjadi Rp1,94 triliun alias melesat 157,6 persen (y-o-y). Adapun besaran laba tahun berjalan yang diatribusikan ke pemilik entitas induk di Kuartal I-2026 sebesar Rp1,82 triliun atau melonjak 166,9 persen dibandingkan laba bersih di Kuartal I-2025.
Dari sisi balance sheet, jumlah ekuitas JPFA per 31 Maret 2026 tercatat Rp22,02 triliun atau bertumbuh 10 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 senilai Rp20,02 triliun. Hingga akhir Kuartal I-2026, total liabilitas sebesar Rp17,31 triliun atau bisa ditekan 13,6 persen (year-to-date), namun masih didominasi kewajiban jangka pendek Rp11,2 triliun.
Per 31 Maret 2026, total aset emiten yang sahamnya dipegang investor individu Mieke Santosa ini mencapai Rp39,33 triliun atau menurun 1,8 persen (y-t-d), dengan jumlah kas dan setara kas tersisa Rp1,85 triliun atau melorot 47,9 persen dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp3,55 triliun.
Jika mengacu pada cash flow di periode Januari-Maret 2026, penurunan kas JPFA tersebut terutama dipicu adanya arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan mencapai Rp3,09 triliun, serta arus kas bersih untuk investasi sebesar Rp877,67 miliar.
Pada sisi aktivitas pendanaan, penggunaan kas bersih khususnya untuk pembayaran utang bank jangka pendek sebesar Rp51,39 triliun, pembayaran utang obligasi Rp5,92 triliun, pembayaran utang bank jangka panjang sebesar Rp226,84 miliar dan pembayaran liabilitas sewa senilai Rp34,35 miliar. Meski demikian, perseroan juga menerima utang bank jangka pendek sebesar Rp50,74 triliun, penerimaan utang bank jangka panjang Rp3 triliun dan penerimaan call spread option Rp748,51 miliar. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
