
RollingStock.ID – PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) berhasil membukukan lonjakan laba bersih pada Semester I-2026, namun di balik pertumbuhan tersebut perseroan mencatatkan peningkatan liabilitas yang jauh lebih agresif, lonjakan utang bank, kenaikan beban bunga hingga belanja investasi yang melampaui kas dari aktivitas operasi usai menyelesaikan merger dengan PT Eka Mas Republik.
Berdasarkan laporan keuangan MORA untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026, entitas usaha Sinar Mas Group melalui DSSA ini membukukan laba bersih mencapai Rp312,37 miliar atau melonjak 82,8 persen dibandingkan Semester I-2025 senilai Rp170,88 miliar. Pendapatan di 1H26 juga tercatat melambung 52,41 persen menjadi Rp2,79 triliun dari Rp1,83 triliun pada 1H25.
Namun pada sisi lain, total liabilitas per 30 Juni 2026 tercatat melonjak jauh lebih cepat, yakni hingga membengkak 256,8 persen menjadi Rp24,43 triliun dari posisi per 31 Desember 2025 sebesar Rp6,85 triliun. Peningkatan kewajiban ini menjadi salah satu konsekuensi paling mencolok usai MORA menyelesaikan merger dengan PT Eka Mas Republik pada 22 April 2026 dan diikuti perubahan nama perusahaan dari PT Mora Telematika Indonesia Tbk menjadi PT Ekamas Mora Republik Tbk.
Lonjakan liabilitas per 30 Juni 2026 tersebut terutama berasal dari kenaikan utang bank jangka panjang sebesar 389,46 persen menjadi Rp14,73 triliun dari Rp3,01 triliun pada 31 Desember 2025. Adapun bagian utang bank yang jatuh tempo dalam satu tahun tercatat meningkat 8,21 persen menjadi Rp1,07 triliun dari Rp985,96 miliar. Maka, total utang bank MORA per 30 Juni 2026 mencapai Rp15,79 triliun alias melonjak 295,46 persen dibanding per 31 Desember 2025 sebesar Rp3,99 triliun.
Kewajiban lainnya juga mengalami peningkatan signifikan, tercermin dari pos utang lain-lain kepada pihak ketiga per 30 Juni 2026 membengkak hingga 2.940,37 persen menjadi Rp3,06 triliun dari Rp100,79 miliar pada 31 Desember 2025. Liabilitas pajak tangguhan meroket 5.636,07 persen menjadi Rp1,15 triliun dari hanya Rp20,02 miliar. Sementara itu total pendapatan ditangguhkan, baik jangka pendek maupun panjang, meningkat 57,89 persen menjadi Rp708,58 miliar dari Rp448,68 miliar.
Peningkatan utang tersebut juga mulai tercermin pada biaya pendanaan, ditunjukkan pada beban bunga dan keuangan di Semester I-2026 tercatat meningkat 13,15 persen menjadi Rp295,77 miliar dari Rp261,39 miliar pada Semester I-2025. Di saat yang sama, beban penjualan membengkak 184,91 persen menjadi Rp342,59 miliar dari Rp120,25 miliar, sedangkan beban umum dan administrasi meningkat 30,24 persen menjadi Rp621,40 miliar dari Rp477,14 miliar.
Pada periode Januari-Juni 2026, emiten pemilik brand MoraRepublic ini mencatatkan arus kas bersih yang diperoleh dari aktivitas operasi sebesar Rp787,32 miliar atau melejit 103,25 persen dari Rp387,36 miliar pada Januari-Juni 2025. Namun, jumlah tersebut masih jauh di bawah belanja aset tetap yang mencapai Rp1,90 triliun alias lebih tinggi 212,49 persen dibandingkan Rp607,57 miliar pada Semester I-2025.
Guna mendukung kebutuhan pendanaan tersebut, MORA masih mengandalkan tambahan pinjaman. Sepanjang Semester I-2026, perseroan memperoleh penerimaan dari utang bank mencapai Rp821,77 miliar dan utang non-bank sebesar Rp500 miliar. Per 30 Juni 2026, total aset perseroan tercatat Rp43,13 triliun atau melonjak 192,18 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 senilai Rp14,76 triliun, sejalan dengan liabilitas yang membengkak. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary
