Likuiditas MTEL Tetap Lemah Meski Tambah Bisnis Baru, Rasio Utang Lanjut Naik

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) berencana memperluas kegiatan usaha dengan menambah tiga Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) di bidang ketenagalistrikan. Namun, ekspansi ini diproyeksikan belum mampu memperbaiki kondisi likuiditas MTEL yang berada pada level rendah.

Berdasarkan keterbukaan informasi MTEL yang dipublikasikan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 26 Juni 2026, emiten di bawah kendali PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) ini mengakui bahwa aset lancar perseroan belum mencukupi untuk memenuhi kewajiban jangka pendek.

Sekadar informasi, per 31 Desember 2025, rasio lancar MTEL tercatat hanya 0,41 kali, rasio cepat sebesar 0,41 kali dan rasio kas sebesar 0,08 kali. “Secara keseluruhan aset lancar Perseroan secara keseluruhan belum cukup memenuhi kewajiban jangka pendeknya, karena rasio likuiditas secara keseluruhan berada di bawah 1,” demikian disampaikan manajemen Mitratel.

Proyeksi keuangan MTEL juga menunjukkan kondisi tersebut belum berubah secara signifikan setelah penambahan kegiatan usaha. Rasio lancar diperkirakan hanya 0,71 kali pada 2026 dan kembali turun menjadi sekitar 0,49-0,55 kali di periode 2027-2030. Rasio cepat diproyeksikan bergerak pada kisaran yang sama, sedangkan rasio kas hanya sekitar 0,04-0,10 kali.

Selain likuiditas yang terbatas, ekspansi bisnis tersebut juga diproyeksikan diikuti oleh peningkatan leverage MTEL. Rasio liabilitas terhadap ekuitas diperkirakan meningkat dari 83,91 persen pada 2026 menjadi 121,89 persen pada 2030. Adapun rasio liabilitas terhadap total aset diproyeksikan meningkat dari 45,63 persen menjadi 54,93 persen pada periode yang sama.

Kendati demikian, manajemen MTEL memperkirakan bahwa penambahan bisnis Power as a Service (PaaS) tetap memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan. Berdasarkan proyeksi keuangan, tambahan pendapatan dari bisnis baru ini senilai Rp47,2 miliar per tahun pada periode 2026-2030. Rencana penambahan KBLI akan terlebih dahulu dimintakan persetujuan melalui RUPS Tahunan pada 30 Juni 2026.

Manajemen perseroan mengakui bahwa kontribusi tersebut relatif kecil dibandingkan keseluruhan pendapatan MTEL. “Proyeksi sesudah menunjukkan bahwa kontribusi PaaS secara umum positif dari sisi pendapatan. PaaS memberikan tambahan yang sangat stabil Rp47,2 miliar per tahun sepanjang 2026-2030. Namun PaaS bukan motor utama pertumbuhan perseroan, melainkan kontributor tambahan yang relatif kecil secara proporsi terhadap total pendapatan perseroan.”

Pada sisi profitabilitas, laba bersih MTEL diproyeksikan meningkat secara nominal dari Rp2,06 triliun pada 2026 menjadi Rp2,19 triliun pada 2030. Tetapi, margin laba bersih diperkirakan menurun secara bertahap dari 21,49 persen menjadi 20,39 persen. Sementara itu, margin EBITDA juga diproyeksikan merosot dari 82,56 persen menjadi 81,73 persen dan margin EBIT menyusut dari 44,95 persen menjadi 42,76 persen.

Mangacu pada studi kelayakan yang disusun KJPP Nirboyo Adiputro, Dewi Apriyanti & Rekan, investasi untuk pengembangan kegiatan usaha baru tersebut diproyeksikan memiliki Net Present Value (NPV) sebesar Rp28,93 miliar, Internal Rate of Return (IRR) proyek sebesar 11,98 persen, Return on Investment (ROI) sebesar 8,6 persen dan Payback Period selama 7 tahun 8 bulan.

Rencananya, MTEL akan menambah tiga KBLI baru, yakni KBLI 35151 tentang Pengoperasian Instalasi Penyediaan Tenaga Listrik, KBLI 35140 tentang Penyediaan Tenaga Listrik dalam Satu Kesatuan Usaha dan KBLI 43211 tentang Pemasangan Jaringan Listrik. Penambahan kegiatan usaha ini untuk mendukung pengembangan layanan PaaS maupun memperkuat layanan bagi pelanggan infrastruktur digital. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top