
RollingStock.ID – Manajemen PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) mengaku bahwa terdapat ketidakpastian material yang dapat menimbulkan keraguan signifikan terhadap kemampuan perseroan untuk melanjutkan kelangsungan usaha di tengah akumulasi defisit mencapai Rp10,27 triliun per 30 Juni 2026.
Berdasarkan laporan keuangan WSBP untuk periode berakhir 30 Juni 2026 yang dikutip Sabtu (18/7), anak usaha PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) ini membukukan pendapatan Rp808,07 miliar atau meningkat 10,3 persen dibandingkan periode yang sama di 2025 senilai Rp732,65 miliar.
Namun, beban pokok pendapatan di Semester I-2026 justru meningkat lebih tinggi, yakni sebesar 19,4 persen (year-on-year) menjadi Rp718 miliar. Dengan demikian, laba bruto WSBP pada 1H26 anjlok 31,5 persen menjadi Rp90,07 miliar dari Rp131,5 miliar pada 1H25.
Di sisi operasional, jumlah beban usaha bisa ditekan 2,4 persen (y-o-y) menjadi Rp220,22 miliar, tetapi penurunan beban usaha ini tidak mampu mengimbangi penyusutan laba bruto dan masih tingginya beban keuangan, sehingga perseroan tetap membukukan rugi bersih yang lebih besar dibandingkan setahun sebelumnya.
Dengan demikian, rugi bersih periode berjalan yang dicatatkan WSBP selama enam bulan pertama tahun ini melambung 20,6 persen menjadi Rp285,59 miliar dari Rp236,88 miliar pada periode yang sama di 2025.
Akibat adanya rugi bersih sebesar Rp285,59 miliar tersebut, maka per 30 Juni 2026 perseroan mencatatkan defisit atau akumulasi rugi mencapai Rp10,27 triliun atau membengkak dibandingkan per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp9,99 triliun.
Per akhir Semester I-2026, WSBP menderita defisiensi modal alias mencatatkan ekuitas negatif sebesar Rp2,24 triliun atau melonjak 14,1 persen dibandingkan akhir Desember 2025 senilai Rp1,97 triliun. Per 30 Juni 2026, total liabilitas tercatat Rp5,16 triliun atau membengkak 2,7 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 sebesar Rp5,02 triliun.
Hingga akhir Juni 2026, total aset WSBP mengalami penurunan 4,6 persen (year-to-date) menjadi Rp2,92 triliun, dengan jumlah kas dan setara kas tersisa Rp37,71 miliar atau anjlok 38,7 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 yang masih sebesar Rp61,56 miliar.
Mengutip Catatan atas Laporan Keuangan (CALK) Nomor 46, WSBP mencatatkan kerugian bersih pada 1H26 yang mengakibatkan peningkatan defisit dan mencatatkan ekuitas negative, serta total liabilitas lancar telah melampaui total aset lancar. Manajemen WSBP mengungkapkan, kondisi ini timbul akibat dari beberapa proyek bermasalah yang memerlukan pendanaan dari utang, sehingga diperlukan restrukturisasi pinjaman dan memasuki masa standstill maupun pengaturan cash waterfall oleh perseroan.
“Kondisi tersebut, antara lain, mengindikasikan adanya ketidakpastian material yang dapat menimbulkan keraguan signifikan terhadap kemampuan Perusahaan untuk melanjutkan kelangsungan usahanya. Dan oleh karena itu, Perusahaan mungkin tidak dapat merealisasikan aset dan melunasi kewajibannya dalam kegiatan usaha normal,” demikian disampaikan manajemen WSBP. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
