
RollingStock.ID – PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) optimistis terhadap prospek usahanya di 2026, setelah per akhir Mei 2026 berhasil membukukan marketing sales mencapai Rp2 triliun atau setara 38 persen dari target di sepanjang tahun ini sebesar Rp5,2 triliun.
Menurut Direktur dan Sekretaris Perusahaan SMRA, Lydia Tjio saat Public Expose di Jakarta, Kamis (11/6), capaian tersebut menunjukkan permintaan terhadap produk-produk SMRA tetap terjaga. “Marketing sales kami sampai di akhir Mei 2026 dapat diakatakan cukup baik, karena sudah mencapai Rp2 triliun, merepresentasikan sebesar 38 persen dari total target kami Rp5,2 triliun,” ucapnya.
Optimisme tersebut juga didukung pencapaian pra-penjualan di sepanjang 2025 yang melampaui target. Direktur Utama SMRA, Adrianto Pitojo Adi mengatakan, perseroan mencatatkan kinerja pemasaran yang solid pada Tahun Buku 2025 dan mampu mempertahankan momentum pertumbuhan pada awal 2026.
“Pada tahun 2025, kami mencapai marketing sales yang melampaui target. Target kami Rp5 triliun, tetapi kami bisa mencapai ke Rp5,53 triliun. Justru marketing sales di 2026, kami sangat mensyukuri, karena pada 1Q26 kami sudah mendapatkan Rp1,2 triliun atau tumbuh 37 persen secara year-on-year,” papar Adrianto.
Meski demikian, kata Adrianto, SMRA tetap mewaspadai berbagai tantangan yang berpotensi memengaruhi industri property, sehingga perseroan harus melalukan pengelolaan bisnis secara berhati-hati. “Dengan kondisi ekonomi yang masih menantang, kami juga harus agile dan peka, serta harus mengelola manajemen cash flow,” ucapnya.
Dalam materi Public Expose SMRA, manajemen perseroan menyebutkan bahwa sejumlah kondisi makroekonomi yang perlu dicermati, antara lain ketidakpastian geopolitik akibat konflik di Timur Tengah, perang dagang antara Amerika Serikat dengan sejumlah negara lain, potensi perubahan kebijakan suku bunga The Federal Reserve dan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Guna menghadapi tantangan tersebut, SMRA telah menyiapkan sejumlah strategi, yakni mengembangkan integrasi antara kawasan hunian dan komersial untuk mendorong tingkat hunian maupun aktivitas komersial, menjaga kualitas produk dan layanan guna meningkatkan nilai.
Selain itu, perseroan akan berupaya meminimalkan risiko kenaikan harga dan ketersediaan material melalui kontrak pembelian, menawarkan produk inovatif sesuai tren pasar, serta terus memperkuat portofolio bisnis yang mampu menghasilkan pendapatan berkelanjutan (recurring income).
Summarecon menjalankan model bisnis kota terpadu (township) melalui tiga unit usaha utama, yaitu pengembangan properti, investasi dan manajemen properti, serta rekreasi, perhotelan dan bisnis lainnya. SMRA mengembangkan kawasan perumahan skala besar yang terintegrasi dengan kawasan komersial dan fasilitas pendukung yang lengkap.
Manajemen memandang bahwa prospek segmen pengembangan properti masih ditopang besarnya cadangan lahan yang dimiliki perseroan. Summarecon Mutiara Makassar memiliki lahan tersedia untuk dikembangkan seluas 310 hektare atau 90 persen dari total area seluas 343 hektare. Adapun Summarecon Bogor memiliki 371 hektare atau 86 persen lahan yang belum dikembangkan, sedangkan Summarecon Crown Gading dan Summarecon Tangerang masing-masing masih memiliki 80 persen land bank.
Pada sisi lain, SMRA juga tetap mengalokasikan belanja modal (capex) untuk mendukung pengembangan usaha di 2026. Capex rersebut akan digunakan Summarecon untuk mengakuisisi lahan di kawasan yang telah dimiliki dan pembangunan aset investasi baru.
“Besaran capex kalau untuk di 2026 yang sedang berjalan ini, biasanya kami tetap akan land acquisition di area kawasan yang memang sudah ada di area sembilan kawasan. Sedangkan untuk yang bagian investment proprety, kami sedang melakukan pembagunan untuk Summarecon Mall Makassar, dengan project cost Rp600 miliar,” ungkap Lydia.
Pembangunan Summarecon Mall Makassar merupakan bagian dari strategi SMRA untuk memperkuat bisnis investasi dan manajemen properti yang menjadi sumber pendapatan berulang. Saat ini, Summarecon memiliki dan mengoperasikan lima pusat perbelanjaan dengan total gross floor area (GFA) lebih dari 500.000 meter persegi. Bisnis properti investasi tersebut memberikan pendapatan rutin yang signifikan dari penyewaan ruang ritel.
Kinerja operasional pusat perbelanjaan SMRA juga menunjukkan kondisi yang solid. Tingkat okupansi Summarecon Mall Kelapa Gading mencapai 92 persen, Summarecon Mall Serpong 94 persen, Summarecon Mall Bekasi 95 persen, Summarecon Mall Bandung 95 persen dan Summarecon Villaggio Outlets 87 persen pada 2025.
Adapun unit bisnis rekreasi dan perhotelan terus dikembangkan sebagai fasilitas pelengkap township sekaligus kontributor recurring income. SMRA mengoperasikan Harris Hotel Kelapa Gading, Harris Hotel Bekasi, Pop! Hotel Kelapa Gading, serta Movenpick Resort & Spa Bali. Manajemen menilai, keberadaan hotel di sekitar pusat perbelanjaan mampu menciptakan lingkungan bisnis yang sinergis. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
