Saham BULL Melesat 10,78%, Pasar Sambut Proyeksi Rekor Laba Kuartal II-2026

bull
PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) berakhir menguat 10,78 persen ke level 370 pada penutupan perdagangan Sesi I di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (14/7). Kenaikan saham terjadi di tengah perhatian pelaku pasar terhadap proyeksi perseroan yang memperkirakan laba bersih Kuartal II-2026 akan menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Berdasarkan data perdagangan hingga akhir Sesi I, saham BULL dibuka pada level 350 atau menguat 4,79 persen dibandingkan penutupan kemarin. Saham emiten pelayaran tanker ini sempat menyentuh level tertinggi 380 dan terendah 336, sebelum ditutup di level 370.

Pada perdagangan di paruh pertama hari ini, harga rata-rata transaksi (average price) tercatat 358,65 dengan kapitalisasi pasar (market cap) mencapai Rp5,73 triliun. Volume transaksi mencapai 454,6 juta saham dengan nilai transaksi sebesar Rp163 miliar, yang berpindah tangan dalam 31,21 ribu kali transaksi.

Kinerja saham BULL di Sesi I yang berhasil melonjak 10,78 persen telah mendorong kenaikan harga dalam sepekan sebesar 12,12 persen dalam sepekan. Sementara itu, selama satu bulan terakhir tercatat lebih tinggi 0,54 persen, namun secara year-to-date di 2026 masih terkoreksi 11,9 persen.

Data antrean order pada akhir Sesi I menunjukkan permintaan beli (bid) tertinggi berada di level 368, sedangkan penawaran jual (offer) terendah berada di posisi 370. Lapisan penawaran jual terbesar terlihat pada level 380 dengan antrean mencapai 16.842.800 juta saham, sedangkan antrean beli tersebar pada rentang 350–368, mencerminkan level tersebut menjadi area yang menjadi perhatian investor.

Penguatan saham BULL pada hari ini, sejalan dengan adanya peningkatan optimisme perseroan terhadap prospek kinerja di 2026. Manejemen BULL memperkirakan, laba bersih Kuartal II-2026 akan menjadi laba bersih kuartalan tertinggi sepanjang sejarah perseroan. Optimisme ini didorong kenaikan Time Charter Equivalent (TCE) sebagai dampak lanjutan konflik AS -Iran terhadap pasar tanker global.

Lebih lanjut manajemen menyebutkan, dampak konflik tersebut belum sepenuhnya tercermin pada tarif angkutan kapal hingga akhir kuartal kedua akibat adanya lag effect (efek jeda) selama dua hingga tiga bulan yang lazim terjadi di industri pelayaran tanker. Selain faktor geopolitik, mulai berkontribusinya kapal tanker LNG baru milik BULL juga meningkatkan pendapatan pada Kuartal II-2026.

Manajemen menjelaskan, konflik di kawasan Teluk Persia menyebabkan ratusan kapal, termasuk kapal tanker minyak, mengalami hambatan operasional sehingga memperketat pasokan armada global. Pada sisi lain, pergeseran sumber pasokan minyak ke wilayah yang lebih jauh meningkatkan ton-mile (jarak tempuh pengangkutan), sehingga kebutuhan armada tanker meningkat dan menopang kenaikan tarif angkutan.

Manajemen BULL memandang, prospek pasar tanker minyak dan LNG tetap positif. Bahkan jika konflik geopolitik mereda, permintaan kapal tanker diperkirakan masih kuat seiring pulihnya produksi minyak dan LNG, meningkatnya kebutuhan pengangkutan energi dari Teluk Persia, pengisian kembali cadangan minyak global dan potensi bertambahnya ekspor minyak Iran.

Guna menangkap peluang tersebut, BULL berencana memperluas armada tanker minyak dan LNG melalui pembelian kapal maupun peluang akuisisi. Selain itu, perseroan akan melanjutkan pengembangan usaha melalui empat pilar strategis, yakni transportasi minyak mentah dan produk minyak, transportasi LNG, Floating Production Storage and Offloading (FPSO) dan Floating Storage and Offloading (FSO), serta Floating Storage Regasification Unit (FSRU). (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top