
RollingStock.ID – Pada Kuartal I-2026, PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) mencatatkan pertumbuhan laba bersih secara agresif meski harus mengorbankan kas untuk pembayaran utang dan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) terpantau bisa mempertahankan tren pertumbuhan stabil. Sementara itu, PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) menghadapi tekanan profitabilitas, namun sukses memperkuat likuiditas melalui lonjakan arus kas operasional.
Berdasarkan laporan keuangan KETR untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, emiten di bawah kendali PT Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara ini mencatatkan pendapatan Rp229,81 miliar atau melambung 98,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2025 sebesar Rp115,57 miliar.
Seiring dengan peningkatan revenue tersebut, beban pokok pendapatan KETR tercatat membengkak 162,4 persen (year-on-year) menjadi Rp133,87 miliar. Dengan demikian, laba bruto di Kuartal I-2026 menjadi Rp95,94 miliar atau masih lebih tinggi 48,6 persen dibandingkan Kuartal I-2025 senilai Rp64,57 miliar.
Pada periode Januari-Maret 2026, emiten yang sahamnya dimiliki PT Gema Lintas Benua ini mencatatkan beban usaha Rp30,02 miliar atau meningkat 21,3 persen (y-o-y), sehingga laba usaha KETR menjadi Rp65,92 miliar atau melejit 65,5 persen (y-o-y).
Selama tiga bulan pertama di 2026, emiten infrastruktur telekomunikasi ini membukukan laba sebelum pajak penghasilan sebesar Rp45,32 miliar atau melesat 170,7 persen dibandingkan dengan laba sebelum pajak penghasilian di Kuartal I-2025 senilai Rp16,74 miliar.
Kuartal I-2026, KETR tidak membukukan beban pajak penghasilan, maka laba tahun berjalan juga sebesar Rp45,32 miliar alias melambung 170,7 persen (y-o-y). Adapun besaran laba tahun berjalan yang diatribusikan ke pemilik entitas induk di 1Q26 sebesar Rp45,31 miliar atau melonjak 170,7 persen dibandingkan laba bersih 1Q25 senilai Rp16,74 miliar.
Pada sisi balance sheet, jumlah ekuitas KETR per 31 Maret 2026 tercatat Rp1,21 triliun atau bertumbuh 3,9 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 senilai Rp1,17 triliun. Hingga akhir Kuartal I-2026, jumlah liabilitas terpantau bisa ditekan hingga 21,8 persen (year-to-date) menjadi Rp958,02 miliar, namun masih didominasi kewajiban jangka pendek sebesar Rp611,94 miliar.
Per 31 Maret 2026, total aset perseroan mencapai Rp2,17 triliun atau menurun 9,3 persen (y-t-d), dengan jumlah kas dan setara kas tersisa Rp25,53 miliar alias ambles 90 persen dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2025 yang mencapai Rp255,5 miliar.
Apabila mengacu pada cash flow di periode Januari-Maret 2026, penurunan kas tersebut terutama dipengaruhi arus kas bersih yang digunakan untuk aktivitas pendanaan mencapai Rp239,13 miliar. Khususnya untuk pembayaran utang obligasi sebesar Rp168 miliar, serta pembayaran pinjaman dari bank maupun lembaga keuangan non-bank.
Sementara itu, kinerja MORA di Kuartal I-2026 mampu meraih laba bersih Rp128,82 miliar atau bertumbuh 23,2 persen (y-o-y), lantaran ditopang perolehan pendapatan Rp962,61 miliar atau mengalami kenaikan 7,5 persen dibandingkan periode yang sama di 2025 sebesar Rp895,45 miliar.
Seiring dengan peningkatan kinerja di area top line tersebut, beban langsung yang dicatatkan MORA tercatat naik 13 persen (y-o-y)) menjadi Rp370,12 miliar. Dengan demikian, laba bruto di Kuartal I 2026 menjadi Rp592,49 miliar atau lebih tinggi 4,3 persen dibandingkan Kuartal I 2025 yang senilai Rp567,88 miliar.
Beban usaha selama tiga bulan pertama di 2025 mengalami kenaikan 2,2 persen (y-o-y) menjadi Rp307,08 miliar, sehingga laba usaha yang dibukukan MoraRepublic bertumbuh 6,8 persen menjadi Rp285,41 miliar dari Rp267,28 miliar pada tiga bulan pertama di 2025.
Pada periode Januari-Desember 2026, emiten yang sahamnya juga dimiliki PT Gema Lintas Benua ini mencatatkan laba sebelum pajak penghasilan sebesar Rp192,29 miliar atau melonjak 31 persen dibandingkan dengan laba sebelum pajak penghasilan di periode yang sama 2025 senilai Rp146,81 miliar.
Dengan adanya beban pajak (neto) di 2026 sebesar Rp49,69 miliar, maka laba tahun berjalan yang dibukukan emiten milik Sinar Mas Group ini menjadi Rp142,6 miliar atau meningkat 28,4 persen (y-o-y). Adapun besaran laba tahun berjalan yang diatribusikan ke pemilik entitas induk di Kuartal I 2026 sebesar Rp128,82 miliar.
Dari sisi neraca, jumlah ekuitas MORA per 31 Maret 2026 tercatat Rp8,06 triliun atau meningkat 1,9 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 senilai Rp7,91 triliun. Hingga akhir Maret 2026, total liabilitas relatif stabil di angka Rp6,86 triliun atau naik tipis 0,3 persen secara year-to-date.
Per 31 Maret 2026, total aset perseroan mencapai Rp14,92 triliun atau bertumbuh 1,1 persen (y-t-d), dengan jumlah kas dan setara kas senilai Rp1,35 triliun alias menurun 1,1 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 yang sebesar Rp1,37 triliun.
Terkait kinerja keuangan IBST di Kuartal I-2026, emiten milik Djarum Group ini membukukan laba bersih Rp45,38 miliar atau anjlok 30,1 persen dibandingkan dengan capaian Kuartal I-2025 sebesar Rp64,92 miliar. Emiten di bawah kendali PT Iforte Solusi Infotek (iForte) ini hanya mampu meraih pendapatan di 1Q26 sebesar Rp198,57 miliar atau merosot 5,1 persen (y-o-y).
Di tengah penurunan omzet tersebut, selama tiga bulan pertama tahun ini perseroan justru mengalami kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 1 persen (y-o-y) menjadi Rp65,77 miliar. Dengan demikian, laba bruto 1Q26 menjadi Rp132,8 miliar atau menurun 7,8 persen (y-o-y).
Pada 1Q26, IBST membukukan laba usaha Rp130,92 miliar atau merosot 2,7 persen (y-o-y). Sementara itu, laba sebelum pajak tercatat Rp53,88 miliar atau melorot 36,1 persen (y-o-y), terutama diakibatkan beban lain-lain (neto) Rp38,47 miliar dibandingkan 1Q25 yang meraih pendapatan lain-lain (neto) senilai Rp1 miliar.
Dengan adanya beban pajak penghasilan di periode Januari-Maret 2026 sebesar Rp8,51 miliar, maka laba bersih periode berjalan yang dicatatkan IBST menjadi Rp45,38 miliar alias anjlok 30,1 persen (y-o-y).
Dari sisi neraca, jumlah ekuitas IBST per 31 Maret 2026 tercatat Rp2,63 triliun atau bertumbuh 1,8 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 senilai Rp2,58 triliun. Hingga akhir Kuartal I-2026, total liabilitas mencapai Rp1,72 triliun atau membengkak 26,2 persen (year-to-date), yang didominasi kewajiban jangka pendek Rp1,06 triliun.
Per 31 Maret 2026, total aset perseroan sebesar Rp4,35 triliun atau meningkat 10,2 persen (y-t-d), dengan jumlah kas di bank mencapai Rp525,47 miliar alias meroket 47.539,8 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 yang hanya Rp1,1 miliar. Jika mengacu pada cash flow di periode Januari-Maret 2026, lonjakan kas tersebut terutama dipengaruhi arus kas bersih yang didapatkan dari aktivitas operasi Rp712,69 miliar atau melambung 213,1 persen dibandingkan periode Januari-Maret 2025 senilai Rp227,64 miliar. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
