
RollingStock.ID – Selama tiga bulan pertama tahun ini, PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) membukukan laba bersih Rp293,7 miliar atau menurun 3,6 persen dibandingkan dengan capaian di Kuartal I-2025 yang sebesar Rp304,71 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan STAA untuk periode yang berakhir 31 Maret 2026, emiten perkebunan dan pengolahan kelapa sawit ini mencatatkan pendapatan Rp2,49 triliun atau melonjak 49,2 persen dibandingkan periode yang sama di 2025 sebesar Rp1,67 triliun.
Sayangnya, beban pokok penjualan di Kuartal I-2026 tercatat membengkak 60 persen (year-on-year) menjadi Rp1,75 triliun, sehingga laba bruto emiten milik PT Malibu Indah Lestari ini menjadi Rp737,37 miliar atau hanya meningkat 28,5 persen (y-o-y).
Pada kuartal pertama tahun ini, STAA membukukan laba usaha Rp439,26 miliar atau menurun 3,8 persen (y-o-y), terutama disebabkan adanya tekanan dari kenaikan beban penjualan dan pemasaran sebesar 266,6 persen (y-o-y) menjadi Rp211,33 miliar.
Selama periode Januari-Maret 2026, emiten yang dimiliki PT Kedaton Perkasa ini hanya membukukan laba sebelum pajak penghasilan senilai Rp432,42 miliar atau merosot 4,7 persen dibandingkan dengan periode yang sama di 2025 sebesar Rp453,62 miliar
Dengan adanya beban pajak penghasilan (neto) di 1Q26 sebesar Rp92,66 miliar, maka laba tahun berjalan yang dicatatkan STAA menjadi Rp339,76 miliar atau lebih rendah 4,3 persen (y-o-y). Adapun besaran laba tahun berjalan yang diatribusikan ke pemilik entitas induk di Kuartal I-2026 senilai Rp293,7 miliar.
Dari sisi neraca, jumlah ekuitas STAA per 31 Maret 2026 tercatat Rp7,35 triliun atau bertumbuh 5 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 senilai Rp7 triliun. Hingga akhir Maret 2026, total liabilitas sebesar Rp2,74 triliun alias membengkak 7 persen (year-to-date), yang didominasi kewajiban jangka pendek Rp1,51 triliun.
Per 31 Maret 2026, total aset emiten yang sahamnya juga dimiliki PT Pelita Sukses Sejati ini mencapai Rp10,09 triliun atau meningkat 5,5 persen (y-t-d), dengan jumlah kas dan setara kas sebesar Rp2,52 triliun atau melonjak 26,7 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 senilai Rp1,99 triliun.
Apabila mengacu pada cash flow STAA di periode Januari-Maret 2026, lonjakan kas tersebut terutama disebabkan adanya arus kas bersih yang didapatkan dari aktivitas operasi sebesar Rp816,92 miliar atau melambung 82,2 persen (y-o-y), sekaligus mencerminkan perbaikan arus kas operasional perseroan. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary
