
RollingStock.ID – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi memulai implementasi kuotasi Liquidity Provider (LP) saham yang dinilai bisa memperkuat likuiditas dan efisiensi perdagangan di pasar modal. Penerapan ini ditandai dengan pelaksanaan kuotasi perdana olehh PT Phintraco Sekuritas pada hari ini, Senin (20/4).
Pada tahap awal saat ini, Phintraco Sekuritas memberikan kuotasi berupa penyediaan order beli dan jual pada lima saham, yaitu TUGU yang sahamnya dimiliki UOB Kay Hian Pte Ltd sebesar 15,84 persen dan pada TKIM sebesar 1,12 persen. Selanjutanya WINS yang sebesar 3,93 persen sahamnya dimiliki UOB Nomineez (Private) Limited.
Saham berikutnya yang dipilih Phintraco Sekuritas adalah saham perusahaan Keluarga Wonowidjojo, yaitu GGRM yang sebesar 1,36 persen sahamnya juga dimiliki PT Lakta Utama. Saham kelima yakni, TPMA yang sebesar 2,85 persen dipegang PT Artha Wijaya Kapital dan sebesar 2,25 persen sahamnya digenggam PT Investasi Jaya Cemerlang.
Menurut Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy di Jakarta, Senin (20/4), kehadiran liquidity provider saham berperan untuk meningkatkan kualitas perdagangan melalui penyempitan bid-ask spread, peningkatan kedalaman pasar dan mendukung kemudahan transaksi bagi investor.
Lantaran order beli dan jual pada praktik liquidity provider bukan sepenuhnya berasal dari permintaan dan penawaran yang alami dari investor, tentunya patut diingat bahwa spread yang menyempit itu tidak melulu mencerminkan likuiditas yang riil.
Irvan menegaskan, partisipasi aktif AB sebagai LP saham merupakan elemen penting dalam meningkatkan likuiditas dan kualitas pembentukan harga. “BEI mengapresiasi komitmen Phintraco Sekuritas dalam mendukung program liquidity provider saham. Kami berharap langkah ini dapat mendorong peningkatan likuiditas, khususnya pada saham-saham yang memiliki potensi untuk berkembang lebih optimal,” ujarnya.
Adanya kemampuan menjaga kuotasi secara konsisten, tentu saja liquidity provider diperkenankan untuk menahan harga pada level tertentu. Dengan demikian, harga pasar tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental, sehingga dikhawatirkan para pelaku pasar bahwa hal ini bisa mengganggu mekanisme price discovery.
Lebih lanjut Irvan menilai, keterlibatan AB akan menjadi faktor kunci dalam keberhasilan implementasi program ini, maka BEI terus mendorong partisipasi yang lebih luas dari pelaku pasar. Dia berharap, keberhasilan pelaksanaan kuotasi perdana ini bisa menjadi katalis bagi AB lainnya untuk turut berpartisipasi.
Irvan berjanji, BEI akan melakukan evaluasi secara berkelanjutan, memberikan insentif dan terus mendorong partisipasi aktif dari seluruh Anggota Bursa pada program liquidity provider saham. Langkah ini dianggap menjadi upaya memperkuat struktur pasar dan meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia. (*)
Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary
