Harga Minyak Melonjak Setelah Selat Hormuz Ditutup Kembali

selat hormuz
Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Harga minyak dunia kembali melonjak signifikan pada Senin setelah sebelumnya anjlok lebih dari 9 persen di sesi Jumat pekan lalu. Kenaikan ini dipicu kabar penutupan kembali Selat Hormuz, seiring dengan menyusul meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait dugaan pelanggaran kesepakatan gencatan senjata.

Kedua negara saling menuduh melakukan serangan terhadap kapal selama akhir pekan. Eskalasi ini memperburuk situasi di kawasan yang menjadi jalur utama distribusi energi global dan langsung memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak.

Mengutip laporan Reuters dan Bloomberg, minyak mentah berjangka Brent sebagai acuan global melonjak sebesar USD6,05 atau 6,69 persen menjadi USD96,43 per barel pada pukul 06.45 WIB di Singapura. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik USD6,6 atau 7,87 persen ke level USD90,45 per barel.

Presiden AS, Donald Trump menyatakan pada Minggu bahwa militer AS telah menyita kapal kargo Iran yang mencoba menembus blokade. Sementara itu, Iran menegaskan tidak akan melanjutkan putaran kedua perundingan damai, meskipun Trump mengancam akan melanjutkan serangan udara.

Sejak konflik meningkat selama hampir dua bulan terakhir, AS mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran. Pada kesempatan yang sama, Iran sempat membuka lalu kembali menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang sebelumnya mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Kepala Riset MST Marquee, Saul Kavonic menyebutkan, pasar minyak bergejolak akibat perubahan pernyataan yang cepat, terutama melalui media sosial, sedangkan kondisi di lapangan masih menghambat normalisasi distribusi. Dia menilai, saat ini pergerakan harga minyak sangat dipengaruhi dinamika politik dan pernyataan publik dari AS dan Iran.

Pada Jumat pekan lalu, kedua kontrak minyak mencatat penurunan harian terbesar sejak 18 April 2026 setelah Iran sempat menyatakan jalur pelayaran di Selat Hormuz dibuka untuk kapal komersial selama masa gencatan senjata. Trump juga mengaku bahwa Iran telah menyepakati untuk tidak lagi menutup jalur tersebut.

Namun, menurut Kavonic, pernyataan pembukaan jalur tersebut terlalu prematur. Dia beranggapan, pelaku industri pelayaran akan tetap berhati-hati untuk melintasi kawasan itu tanpa jaminan keamanan yang jelas.

Data Kpler menunjukkan, lebih dari 20 kapal melintasi Selat Hormuz pada Sabtu, mengangkut berbagai komoditas seperti minyak, gas petroleum cair, logam dan pupuk. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak 1 Maret 2026 sebelum ketidakpastian kembali muncul akibat penutupan ulang jalur strategis tersebut. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top