IHSG Ambruk di Akhir Pekan, Pendiri CELIOS Desak Ketua OJK dan Dirut BEI Mundur

Pendiri dan Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira Adhinegara – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Pendiri dan Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara mendesak Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik untuk segera mengundurkan diri menyusul memburuknya kondisi pasar modal Indonesia.

Desakan Bhima tersebut disampaikan di tengah kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (16/10), serta ancaman perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Dia menilai, sejak MSCI membekukan penilaian terhadap pasar modal Indonesia pada 27 Januari 2026, perubahan aturan BEI yang dilakukan masih sebatas administratif. Menurut Bhima, praktik di pasar modal justru semakin jauh dari kondisi ideal, terutama dalam aspek transparansi dan perlindungan investor minoritas.

“Sejak freeze MSCI pada 27 Januari 2026 perubahan di aturan Bursa hanya dilakukan secara administratif, sementara praktiknya makin jauh dari ideal. Akuisisi saham Bayan (PT Bayan Resources Tbk/BYAN) salah satu indikator bagaimana transparansi dan perlindungan investor minoritas bukan prioritas utama,” ujar Bhima.

Lebih lanjut dia juga menyoroti rencana Danantara Indonesia untuk membeli saham BEI dalam konteks demutualisasi Bursa. Bhima mengungkapkan, rencana tersebut menambah beban penilaian terhadap independensi bursa saham Indonesia, karena Danantara merupakan entitas yang didukung negara.

“Danantara yang ingin membeli saham BEI dalam konteks demutualisasi bursa juga menambah beban penilaian independensi bursa saham. Danantara bagaimanapun state backup entity,” imbuhnya.

Bhima menegaskan, persoalan klasifikasi pasar modal Indonesia merupakan masalah serius. Jika Indonesia benar-benar mengalami penurunan status menjadi Standalone Market, maka ada potensi keluarnya dana asing dalam jumlah besar dari pasar modal domestik.

“Jadi persoalan ini sangat serius karena Indonesia yang terancam turun ke standalone market akan memicu dana asing keluar dalam jumlah yang masif. Bahkan bursa di Burkina Faso (negara di Afrika Barat) lebih baik posisinya sebagai frontier market,” ucap Bhima.

Terkait dengan kondisi tersebut, dia mengatakan bahwa pimpinan otoritas pasar modal perlu bertanggung jawab atas situasi yang terjadi, serta meminta Ketua Dewan Komisioner OJK dan Direktur Utama BEI mengundurkan diri. “Karena gagal dan posisi bursa saham makin terancam, sebaiknya Ketua OJK dan Direktur Utama BEI mengundurkan diri,” tegasnya.

Sebelumnya, IHSG anjlok 8,01% ke level 5.393 pada awal perdagangan Jumat (16/10), sehingga perdagangan terkena penghentian sementara atau (trading halt). Bahkan, saat pembukaan kembali perdagangan hari ini atau 30 menit setelah trading halt, pada pukul 09.32 WIB posisi IHSG berlanjut ambles 11,25 persen ke level 5.203 dibandingkan penutupan sebelumnya di level 5.863.

Tekanan pasar tersebut terjadi sehari setelah MSCI mengumumkan konsultasi terkait rencana perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Namun, proses tersebut masih berupa konsultasi dan belum merupakan keputusan final. MSCI menetapkan batas penerimaan masukan hingga 30 April 2027. (*)

Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *