AMMN dan EMAS Anjlok, IDXBASIC Tersungkur 4,57% Saat IHSG Jatuh ke Level 4.996

Ilustrasi – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Indeks sektor barang baku (IDXBASIC) mencatatkan penurunan terdalam di antara indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan Senin (19/10), dengan pelemahan 4,57 persen. Sejalan dengan pelemahan seluruh indeks sektoral, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 3,64 persen ke level 4.996.

Berdasarkan data IDX Mobile, hari ini IDXBASIC terjerembab 4,57 persen. AMMN sebagai emiten pemilik market cap terbesar di indeks ini senilai Rp252 triliun, harga sahamnya anjlok 6,95 persen hingga menyentuh auto rejection bawah (ARB) di level 3.480. BRPT yang memiliki market cap terbesar kedua senilai Rp112 triliun, harga sahamnya merosot 1,24 persen ke 1.195. Adapun EMAS sebagai emiten dengan market cap terbesar ketiga senilai Rp97,5 triliun, harga sahamnya melorot 6,03 persen ke level 6.625.

Indeks sektor infrastruktur (IDXINFRA) menyusul dengan penurunan 4,45 persen. BREN sebagai emiten pemilik market cap terbesar di indeks ini senilai Rp245 triliun, harga sahamnya merosot 1,08 persen ke level 1.835. Namun, TLKM yang memiliki market cap terbesar kedua senilai Rp175 triliun, harga sahamnya anjlok 6,84 persen hingga menyentuh ARB di level 1.770. MORA sebagai emiten dengan market cap terbesar ketiga senilai Rp173 triliun, harga sahamnya anjlok 6,91 persen hingga menyentuh ARB di level 3.640.

Berikutnya, indeks sektor barang konsumen non-primer (IDXCYCLIC) terkoreksi 4,09 persen. MAPI sebagai emiten pemilik market cap terbesar di indeks ini senilai Rp20,5 triliun, harga sahamnya terperosok 6,44 persen ke level 1.320. Sementara itu, MGLV dengan market cap Rp19,6 triliun, harga sahamnya anjlok 9,83 persen hingga menyentuh ARB di level 10.325. Adapun FORU sebagai konstituen IDXCYCLIC dengan market cap Rp17,1 triliun, harga sahamnya anjlok 6,48 persen hingga menyentuh ARB di level 101.

Indeks sektor barang konsumen primer (IDXNONCYC) tercatat melemah 3,88 persen. HMSP sebagai emiten pemilik market cap terbesar di indeks ini senilai Rp68,6 triliun, harga sahamnya melorot 3,28 persen ke level 590. Sementara itu, ICBP yang memiliki market cap terbesar kedua senilai Rp68,5 triliun, harga sahamnya anjlok 6,75 persen hingga menyentuh ARB di level 5.875. Adapun INDF sebagai emiten dengan market cap terbesar ketiga senilai Rp56,8 triliun, harga sahamnya merosot 2,26 persen ke level 6.475.

Kemudian, indeks sektor kesehatan (IDXHEALTH) terkoreksi 3,64 persen. SRAJ sebagai emiten pemilik market cap terbesar di indeks ini senilai Rp130 triliun, harga sahamnya melorot 3,17 persen ke level 10.700. KLBF yang memiliki market cap terbesar kedua senilai Rp30,6 triliun, harga sahamnya merosot 2,96 persen ke level 655. Sementara itu, MIKA sebagai konstituen IDXHEALTH dengan market cap Rp19,1 triliun, harga sahamnya anjlok 6,78 persen hingga menyentuh ARB di level 1.375.

Indeks sektor perindustrian (IDXINDUST) tercatat menurun 2,97 persen. ASII sebagai emiten pemilik market cap terbesar di indeks ini senilai Rp167 triliun, harga sahamnya merosot 1,43 persen ke level 4.130. Selanjutnya, UNTR dengan market cap terbesar kedua senilai Rp84 triliun, harga sahamnya melemah 0,44 persen ke level 22.525. Adapun IMPC sebagai emiten dengan market cap terbesar ketiga senilai Rp42,7 triliun, harga sahamnya anjlok 6,52 persen hingga menyentuh ARB di level 860.

Indeks sektor energi (IDXENERGY) melemah 2,95 persen. BYAN sebagai emiten pemilik market cap terbesar di indeks ini senilai Rp345 triliun, harga sahamnya anjlok 6,95 persen hingga menyentuh ARB di level 10.375. Sebaliknya, DSSA yang memiliki market cap sekitar Rp140 triliun, harga sahamnya justru menguat 2,1 persen ke level 730. Sementara itu, CUAN sebagai konstituen IDXENERGY dengan market cap Rp56,7 triliun, harga sahamnya anjlok 6,48 persen hingga menyentuh ARB di level 505.

Selanjutnya, indeks sektor transportasi dan logistik (IDXTRANS) tercatat melemah 2,91 persen. GIAA sebagai emiten pemilik market cap terbesar di indeks ini senilai Rp16,2 triliun, harga sahamnya anjlok 9,09 persen hingga menyentuh ARB di level 40. Sebaliknya, TMAS dengan market cap terbesar kedua senilai Rp6,33 triliun, harga sahamnya menguat 3,74 persen ke level 111. Adapun SMDR sebagai emiten dengan market cap terbesar ketiga senilai Rp5,56 triliun, harga sahamnya merosot 2,86 persen ke level 340.

Indeks sektor properti dan real estat (IDXPROPERT) terkoreksi 2,75 persen. MPRO sebagai emiten pemilik market cap terbesar di indeks ini senilai Rp114 triliun, harga sahamnya melemah 0,43 persen ke level 11.550. PANI yang memiliki market cap terbesar kedua senilai Rp74,2 triliun, harga sahamnya melorot 4 persen ke level 4.080. Lalu, MKPI sebagai emiten dengan market cap terbesar ketiga senilai Rp19,3 triliun, harga sahamnya melemah 0,49 persen ke posisi 20.450.

Indeks sektor teknologi (IDXTECHNO) tercatat melemah 2,46 persen. DCII sebagai emiten pemilik market cap terbesar di sektor ini senilai Rp445 triliun, harga sahamnya menurun 0,68 persen ke level 186.900. Selanjutnya, BELI dengan market cap terbesar kedua senilai Rp36,7 triliun, harga sahamnya merosot 1,47 persen ke level 268. Sementara itu, MLPT sebagai emiten dengan market cap terbesar ketiga senilai Rp32,3 triliun, harga sahamnya anjlok 6,76 persen hingga menyentuh ARB di level 690.

Adapun indeks sektor keuangan (IDXFINANCE) mencatatkan penurunan paling dangkal di antara 11 indeks sektoral BEI, yakni sebesar 2,18 persen. BBCA sebagai emiten pemilik market cap terbesar di indeks ini senilai Rp588 triliun, harga sahamnya anjlok 6,86 persen hingga menyentuh ARB di level 4.820. BBRI yang memiliki market cap terbesar kedua senilai Rp381 triliun, harga sahamnya melorot 3,79 persen ke level 2.540. Adapun BMRI sebagai emiten dengan market cap terbesar ketiga senilai Rp310 triliun, harga sahamnya melemah 0,88 persen ke level 3.360. (*)

Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *