IDXTECHNO Anjlok 16,65% Sebulan di Saat GOTO Ambles 36%, Cuma IDXINDUST yang Menguat

RollingStock.ID – Indeks sektor teknologi (IDXTECHNO) menjadi indeks sektoral dengan penurunan paling tajam sebesar 16,65 persen selama sebulan terakhir hingga penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (30/9). Pelemahan ini terjadi di tengah amblesnya saham GOTO sebesar 36 persen ke level 32, sedangkan mayoritas indeks sektoral lainnya juga mencatat penurunan.
Berdasarkan data perdagangan saham di BEI, sebanyak 10 dari 11 indeks sektoral mencatatkan penurunan selama sebulan terakhir. Hanya indeks sektor industri (IDXINDUST) yang mampu mengalami penguatan, yakni sebesar 2,94 persen.
Di antara indeks sektoral yang melemah, IDXTECHNO mencatat penurunan paling dalam, yakni sebesar 16,65 persen. DCII yang merupakan emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di sektor ini senilai Rp471 triliun, harga sahamnya melorot 2,58 persen dalam sebulan terakhir ke level 198.000.
Sementara itu, MLPT sebagai emiten dengan market cap terbesar kedua di IDXTECHNO senilai Rp45,9 triliun, harga sahamnya anjlok 24,32 persen ke level 980. Adapun GOTO dengan market cap Rp36,4 triliun, sahamnya ambles 36 persen ke level 32. Selama tiga hari terakhir, GOTO mengalami auto rejection bawah (ARB) usai pemberlakuan aturan batas minimum harga saham Rp1 pada 28 September 2026.
Berikutnya, indeks sektor infrastruktur (IDXINFRA) tersungkur 11,69 persen dalam sebulan terakhir. BREN sebagai emiten dengan market cap terbesar di sektor ini senilai Rp387 triliun, harga sahamnya anjlok 13,69 persen ke posisi 2.900. Kemudian, TLKM yang menjadi emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua senilai Rp226 triliun, sahamnya anjlok 10,89 persen ke level 2.290.
Indeks sektor properti dan real estat (IDXPROPERT) terperosok sebesar 11,2 persen dalam sebulan. MPRO sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di indeks ini senilai Rp119 triliun, harga sahamnya merosot 2,24 persen ke level 12.000. Sementara itu, PANI sebagai emiten dengan market cap terbesar kedua di IDXPROPERT senilai Rp81,3 triliun, harga sahamnya anjlok 24,56 persen ke posisi 4.470.
Selama sebulan terakhir indeks sektor barang baku (IDXBASIC) melorot 10,3 persen. AMMN sebagai emiten dengan market cap terbesar di sektor ini senilai Rp327 triliun, justru mencatatkan penguatan harga saham sebesar 2,27 persen ke 4.510. Namun, TPIA sebagai emiten dengan market cap terbesar kedua senilai Rp150 triliun, harga sahamnya anjlok 11,7 persen ke 1.735 dan BRPT dengan market cap Rp131 triliun mengalami penurunan harga saham mencapai 23,22 persen ke level 1.405.
Selanjutnya, indeks sektor kesehatan (IDXHEALTH) mengalami penurunan hingga 7,94 persen dalam sebulan. SRAJ sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di sektor kesehatan senilai Rp159 triliun, harga sahamnya anjlok 9,72 persen ke level 13.000. Sementara itu, KLBF dengan market cap terbesar kedua di sektor ini senilai Rp34,1 triliun, harga sahamnya melorot 8,75 persen ke posisi 730.
Indeks sektor barang konsumen non-primer (IDXCYCLIC) melorot 6,79 persen selama sebulan terakhir. FORU sebagai emiten dengan market cap terbesar di sektor ini senilai Rp37,6 triliun, harga sahamnya nyungsep 88,74 persen ke posisi 224. VKTR yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar kedua senilai Rp34,5 triliun, harga sahamnya tercatat anjlok 18,13 persen ke level 790.
Adapun indeks sektor barang konsumen primer (IDXNONCYC) terkoreksi 5,45 persen dalam sebulan. ICBP sebagai emiten dengan market cap terbesar di sektor ini senilai Rp77,8 triliun, harga sahamnya anjlok 16,04 persen ke posisi 6.675. Lalu, HMSP yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar kedua senilai Rp72,6 triliun, harga sahamnya melorot 14,97 persen ke level 625.
Indeks sektor keuangan (IDXFINANCE) terpantau melemah 4,64 persen dalam sebulan terakhir. BBCA sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di sektor keuangan senilai Rp741 triliun, harga sahamnya anjlok 6,18 persen ke level 6.075. Kemudian, BBRI yang menjadi emiten dengan market cap terbesar kedua senilai Rp471 triliun, harga sahamnya merosot 1,57 persen ke level 3.140.
Berikutnya, indeks sektor energi (IDXENERGY) dalam sebulan terakhir mengalami pelemahan 4,36 persen. BYAN sebagai emiten dengan market cap terbesar di sektor ini senilai Rp393 triliun, harga sahamnya anjlok 19,04 persen ke posisi 11.800. DSSA sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua senilai Rp206 triliun, harga sahamnya melorot 6,55 persen ke level 1.070.
Kemudian, indeks sektor transportasi dan logistik (IDXTRANS) melemah 2,03 persen dalam sebulan. GIAA sebagai emiten dengan market cap terbesar di indeks sektor transportasi senilai Rp23,2 triliun, harga sahamnya anjlok 12,31 persen ke level 57. TMAS dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua senilai Rp6,78 triliun, sahamnya anjlok 15 persen ke posisi 119.
Berbeda dengan 10 indeks sektoral lainnya, indeks sektor industri (IDXINDUST) menjadi satu-satunya indeks yang mencatat penguatan dalam sebulan terakhir, yakni menguat 2,94 persen. ASII sebagai emiten dengan market cap terbesar di sektor ini senilai Rp186 triliun, harga sahamnya justru anjlok 4,17 persen ke level 4.600.
Namun demikian, UNTR sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di IDXINDUST senilai Rp100 triliun, harga sahamnya dalam sebulan terakhir tercatat melambung 12,81 persen ke level 27.075. Lalu diikuti IMPC yang merupakan emiten dengan market cap terbesar ketiga di sektor ini senilai Rp78,2 triliun, harga sahamnya melonjak 5,56 persen ke level 1.425.
Pergerakan tersebut terjadi ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam sebulan terakhir anjlok 6,96 persen ke level 6.071 pada penutupan perdagangan Rabu (30/9) dari posisi sebelumnya di level 6.525 pada penutupan perdagangan Senin, 31 Agustus 2026. (*)
Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary
1 thought on “IDXTECHNO Anjlok 16,65% Sebulan di Saat GOTO Ambles 36%, Cuma IDXINDUST yang Menguat”