Surge (WIFI) Mau Ekspansi ke Konstruksi Sentral Telko, NPV Proyek Capai Rp929,8 Miliar

RollingStock.ID – PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) akan menambah kegiatan usaha Konstruksi Sentral Telekomunikasi melalui Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 42206, dengan hasil studi kelayakan menunjukkan proyek tersebut memiliki Net Present Value (NPV) positif mencapai Rp929,8 miliar dan payback period selama 1 tahun 5 bulan.
Berdasarkan keterangan WIFI yang dikutip Minggu (9/8), rencana penambahan kegiatan usaha tersebut akan mengakibatkan perubahan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan dan membutuhkan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) yang dijadwalkan pada 11 September 2026.
Emiten pemilik brand Surge ini menunjuk KJPP Syarif, Endang dan Rekan sebagai penilai independen untuk melakukan studi kelayakan. KJPP ini menerbitkan Laporan Studi Kelayakan Penambahan Kegiatan Usaha Konstruksi Sentral Telekomunikasi (KBLI 42206) pada 7 Agustus 2026, dengan tanggal penilaian pada 30 Juni 2026.
Mengacu pada studi kelayakan tersebut, rencana penambahan kegiatan usaha WIFI dinilai layak dari aspek pasar, teknis, pola bisnis, model manajemen dan keuangan. Kesimpulan tersebut berlaku sepanjang tidak terdapat perubahan material terhadap kondisi internal maupun eksternal Surge setelah tanggal laporan penilaian.
Dari sisi pasar, sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) disebut menyumbang 4,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan berada di peringkat ketujuh sebagai penyumbang terbesar. Sektor tersebut tumbuh 8,35 persen secara tahunan.
Namun, studi kelayakan mencatat pertumbuhan industri telko mengalami perlambatan, tercermin pada periode 2021-2025 yang menunjukkan pendapatan hanya bertumbuh 16 persen dan jumlah pengguna meningkat 25 persen. Kondisi ini menyebabkan rata-rata pendapatan per pengguna (ARPU) merosot 8,8 persen dari USD2,73 per bulan pada 2021 menjadi USD2,49 per bulan pada 2025.
Pada sisi infrastruktur, hingga 2025 jumlah Optical Distribution Point (ODP) yang terpasang di Indonesia mencapai lebih dari 2 juta unit. Total panjang jaringan kabel fiber optik nasional juga telah melampaui 500.000 kilometer yang terdiri atas jaringan darat dan bawah laut.
Jaringan tersebut menjangkau seluruh provinsi, termasuk wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T), melalui pengembangan proyek Palapa Ring serta ekspansi jaringan operator telko. Berdasarkan kondisi tersebut, KJPP menyimpulkan aspek kelayakan pasar untuk penambahan kegiatan usaha WIFI adalah layak.
Dalam menjalankan kegiatan usaha baru, WIFI akan menerapkan kapasitas operasional berbasis proyek yang dapat ditingkatkan secara modular. Pada tahap awal, satu tim proyek inti akan menjalankan proyek kecil hingga menengah secara paralel dengan dukungan tenaga pelaksana dan mitra atau subkontraktor terverifikasi.
Emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Hashim Djojohadikusumo ini juga akan mengandalkan kemampuan menyediakan layanan end-to-end, menangani proyek multi-site, dokumentasi digital, standar quality control, serta peluang cross-selling kepada pelanggan eksisting. Melalui kegiatan usaha baru tersebut, perseroan menargetkan penambahan sumber pendapatan.
Meski demikian, KJPP menilai bisnis konstruksi sentral telko memiliki tingkat persaingan yang tinggi. Hambatan masuk antara lain kebutuhan perizinan dan kualifikasi usaha, modal kerja dan jaminan proyek, tenaga kompeten, rekam jejak hingga kemampuan mengelola proyek multi-site.
Pada sisi keuangan, NPV proyek tercatat positif sebesar Rp929,8 miliar, sedangkan Profitability Index (PI) sebesar 8,30640 dan payback period selama 1 tahun 5 bulan. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan kenaikan struktur biaya menjadi faktor yang paling sensitif terhadap kelayakan usaha.
Manajemen WIFI menyampaikan, perseroan akan memosisikan kegiatan usaha baru tersebut sebagai bagian dari strategi menjadi perusahaan telekomunikasi terintegrasi yang berfokus pada pembangunan infrastruktur telekomunikasi di area komersial, residensial, industri, pendidikan, pemerintahan dan ruang publik.
Dalam jangka menengah dan panjang, manajemen WIFI memperkirakan kegiatan usaha baru itu bisa memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan pendapatan, peningkatan laba usaha, diversifikasi sumber pendapatan dan penguatan struktur bisnis. Kegiatan ini juga diharapkan mampu menciptakan sinergi dengan kegiatan usaha Surge dan entitas anak, sehingga bisa meningkatkan efisiensi operasional. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary