MEJA Banderol Harga Rights Issue Rp450-Rp550 per Saham untuk Akuisisi Trimata Coal Perkasa

Ilustrasi – (Foto: RollingStock)

RollingStock.ID – PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) mengindikasikan harga pelaksanaan rights issue di kisaran Rp450-Rp550 per saham sebagai bagian dari struktur transaksi rencana akuisisi PT Trimata Coal Perkasa (TCP). Rencana ini sudah memasuki tahap persiapan, setelah pemegang saham MEJA menyetujui peningkatan modal dasar perseroan dalam RUPS-LB Ketiga pada 21 Agustus 2026.

Berdasarkan keterangan resmi MEJA yang dikutip Minggu (6/9), perseroan menyatakan bahwa kisaran harga pelaksanaan Rp450-Rp550 per saham tersebut merupakan indikasi awal dan belum menjadi harga final. Adapun harga final nantinya akan mempertimbangkan hasil valuasi independen, struktur final transaksi, kondisi pasar saat pelaksanaan dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Manajemen MEJA menyampaikan, rights issue tersebut merupakan bagian dari struktur transaksi rencana akuisisi TCP. Selain rights issue dan akuisisi TCP, perseroan juga sedang menyiapkan perubahan kegiatan usaha menjadi perusahaan induk (holding company). Ketiga agenda ini akan dimintakan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) berikutnya.

Sekadar mengingatkan, langkah MEJA menuju aksi korporasi tersebut sudah berlangsung sejak Juli 2026. Sebelumnya perseroan telah memperoleh persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 13 Juli 2026 untuk menyelenggarakan RUPS-LB Ketiga. Manajemen perseroan menegaskan bahwa pihaknya sedang menyiapkan rights issue dalam rangka rencana akuisisi TCP dan menyelesaikan audit laporan keuangan periode Juni 2026, serta mempersiapkan penunjukan Kantor Jasa Penilai Publik terkait rencana perubahan bidang usaha menjadi perusahaan induk.

Dalam RUPS-LB Ketiga yang digelar pada 21 Agustus 2026, pemegang saham menyetujui peningkatan modal dasar MEJA dari Rp100 miliar menjadi Rp208,65 miliar. Modal dasar baru ini terbagi atas 10.432.342.000 saham dengan nilai nominal Rp20 per saham. RUPS juga menyetujui peningkatan modal ditempatkan dan disetor dari Rp44,71 miliar menjadi Rp52,16 miliar.

Adapun jumlah saham ditempatkan dan disetor MEJA meningkat dari 2.235.502.042 lembar menjadi 2.608.081.058 saham. Peningkatan ini berasal dari pembagian saham bonus yang dikapitalisasi dari tambahan modal disetor perseroan untuk Tahun Buku 2024, dengan penerbitan sebanyak 372.579.016 saham baru.

Setelah perubahan tersebut, maka susunan pemegang saham MEJA terdiri dari PT Triple Berkah Bersama sebanyak 1.025.319.283 saham (39,31%), Richie Adrian Hartanto sebanyak 7.583.333 saham (0,29%) dan investor publik sebanyak 1.575.178.442 saham (60,4%), dengan total saham mencapai 2.608.081.058 saham.

Dengan demikian, persetujuan peningkatan modal dasar dalam RUPS-LB Ketiga menjadi salah satu tahapan yang telah dilalui MEJA sebelum melanjutkan rencana rights issue dan akuisisi TCP. Sebelumnya manajemen MEJA menegaskan, persetujuan peningkatan modal dasar tersebut sebagai salah satu tahapan yang diperlukan untuk mempersiapkan dan melanjutkan transformasi dalam aksi korporasi perseroan.

Manajemen menargetkan, perubahan kegiatan usaha menjadi holding company, persetujuan transaksi akuisisi TCP dan pelaksanaan rights issue bisa dilakukan pada Kuartal IV-2026. Target tersebut mempertimbangkan penggunaan laporan keuangan auditan untuk periode yang berakhir pada 30 Juni 2026 sebagai salah satu dokumen pendukung aksi korporasi.

Selain itu, MEJA juga harus menyelesaikan proses valuasi, kajian, uji tuntas atau due diligence, dokumentasi transaksi dan memenuhi ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal. Pada tahap sebelumnya, manajemen perseroan juga telah menyampaikan bahwa penyelesaian audit laporan keuangan Juni 2026 dan penunjukan Kantor Jasa Penilai Publik sebagai bagian dari persiapan aksi korporasi tersebut.

Lebih lanjut manajemen MEJA barharap struktur holding company bisa memberikan fleksibilitas lebih besar dalam mengembangkan investasi dan mengelola portofolio anak perusahaan pada sektor-sektor yang dinilai memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang. Namun demikian, seluruh rencana tersebut masih berada dalam tahap persiapan dan pelaksanaannya tetap bergantung pada persetujuan pemegang saham. (*)

Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *