Pefindo: Penerbitan Surat Utang Korporasi di 9M26 Turun 12,75% Jadi Rp139,65 Triliun

Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto – (Foto: RollingStock)

RollingStock.ID – Penerbitan surat utang korporasi di Indonesia mencapai Rp139,65 triliun sepanjang Januari-September 2026 atau menurun 12,75% dibandingkan periode yang sama di 2025 sebesar Rp160,06 triliun. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai bahwa kenaikan biaya dana menjadi faktor utama yang menekan penerbitan surat utang korporasi di tengah meningkatnya yield instrumen acuan di pasar.

Menurut Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto, tekanan terhadap penerbitan surat utang korporasi mulai terasa sejak April 2026, sejalan dengan kenaikan biaya pendanaan. Peningkatan yield acuan —baik dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) maupun Surat Berharga Negara (SBN)— turut mempengaruhi biaya penerbitan surat utang korporasi.

“Kami melihat ada beberapa penyebab yang membuat penerbitan surat utang korporasi tahun 2026 mengalami moderasi. Yang pertama dan paling utama sebenarnya adalah dari sisi biaya dana,” ujar Suhindarto saat pelaksanaan Pefindo Press Conference 2026 secara daring, Rabu (14/10).

Suhindarto mengatakan bahwa kenaikan biaya dana sepanjang 2026 cukup signifikan, terutama sejak Kuartal II 2026. Ini seiring dengan kenaikan yield benchmark yang ada di pasar. Yield benchmark ini sendiri adalah yield dari SRBI maupun SBN,” tegasnya.

Selain mengalami penurunan secara tahunan, kata dia, penerbitan surat utang korporasi pada sembilan bulan pertama 2026 juga lebih rendah dibandingkan penerbitan di periode yang sama 2025 jika dilihat dari instrumen obligasi dan sukuk.

Penerbitan obligasi korporasi dan sukuk tercatat sebesar Rp132,4 triliun atau merosot 16,81 persen dibandingkan Rp159,1 triliun pada 9M2025. Sementara itu, penerbitan medium-term notes (MTN) justru meningkat menjadi Rp7,1 triliun dari Rp800 miliar pada periode yang sama di 2025. Penerbitan Efek utang lainnya berupa surat utang perpetual tercatat Rp220 miliar pada Kuartal III-2026.

Secara keseluruhan, nilai penerbitan surat utang korporasi tersebut mencerminkan masih berlangsungnya aktivitas pendanaan melalui pasar modal, meskipun perusahaan menghadapi biaya pendanaan yang lebih tinggi.

Pada sisi struktur penerbitan,surat utang korporasi nasional selama 9M2026 terdiri atas obligasi sebesar Rp100,1 triliun, MTN Rp7,1 triliun, sukuk Rp32,2 triliun dan surat utang perpetual Rp220 miliar. Total penerbitan tersebut berasal dari 65 perusahaan dengan nilai keseluruhan sekitar Rp139,6 triliun.

Secara industri, ujar Suhindarto, sektor kehutanan, pulp dan kertas menjadi kontributor penerbitan terbesar dengan nilai Rp21,2 triliun dari empat perusahaan. Berikutnya, sektor pembiayaan konsumen otomotif mencapai Rp18,4 triliun (8 perusahaan), entitas terkait pemerintah dan layanan publik Rp16,7 triliun (3 perusahaan), pertambangan Rp14,7 triliun (4 perusahaan) dan perbankan Rp14 triliun (8 perusahaan).

Adapun penerbitan surat utang yang diterbitkan dan diperingkat oleh Pefindo mencapai Rp116,8 triliun dari 53 perusahaan sepanjang Januari-September 2026. Nilai ini terdiri atas obligasi Rp89,5 triliun, MTN Rp100 miliar, sukuk Rp27 triliun dan surat utang perpetual Rp200 miliar.

Dalam kelompok penerbitan yang diperingkat Pefindo tersebut, industri kehutanan, pulp dan kertas kembali menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp21,2 triliun. Posisi berikutnya ditempati entitas terkait pemerintah dan layanan publik sebesar Rp16,7 triliun, pertambangan Rp14,7 triliun, perbankan Rp12,8 triliun dan pembiayaan konsumen otomotif Rp12,1 triliun.

Untuk sisi peringkat kredit, penerbit dengan peringkat AAA masih mendominasi penerbitan surat utang korporasi pada 9M2026 dengan porsi 41,29 persen. Penerbit berperingkat A menyumbang 39,84 persen, sedangkan peringkat AA mencapai 18,7 persen dan peringkat BBB tercatat 0,18 persen.

Suhindarto mengungkapkan, struktur tenor penerbitan juga memperlihatkan kecenderungan perusahaan memanfaatkan pendanaan jangka pendek hingga menengah. Pada 9M2026, penerbitan bertenor satu tahun memiliki porsi terbesar sebesar 34,77 persen, diikuti tenor tiga tahun sebesar 30,97 persen, tenor lima tahun sebesar 23,66 persen dan tenor tujuh tahun menyumbang 7,7 persen.

Dari segi penggunaan dana, modal kerja masih menjadi tujuan utama penerbitan surat utang korporasi. Namun, porsinya menurun dari 61,53 persen pada Januari-September 2025 menjadi 52,6 persen pada periode yang sama 2026. Sebaliknya, porsi pendanaan untuk investasi meningkat dari 8,02 persen menjadi 18,99 persen. Sementara itu, porsi refinancing (pembiayaan kembali) menurun dari 30,4 persen menjadi 28,39 persen.

Lebih lanjut Suhindarto menyebutkan, tekanan biaya pendanaan juga tercermin dari perkembangan yield di pasar, tercermin dari yield SRBI berada di atas yield SBN dan mendekati yield obligasi korporasi berperingkat AAA. Kenaikan yield acuan ini mendorong peningkatan biaya penerbitan kupon obligasi korporasi, khususnya sejak Kuartal II-2026.

Dia menambahkan, rasio penerbitan surat utang terhadap nilai jatuh tempo tetap berada di atas 100 persen. Pada Januari-September 2026, rasio tersebut mencapai 117,2 persen, meskipun lebih rendah dibandingkan 137,2 persen pada periode yang sama 2025.

Pefindo menilai, kondisi tersebut menunjukkan bahwa nilai penerbitan masih melampaui nilai surat utang yang jatuh tempo, tetapi selisihnya semakin menyempit. Dengan demikian, pasar surat utang korporasi Indonesia masih menunjukkan aktivitas penerbitan yang cukup besar, meskipun mengalami kontraksi secara tahunan. (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *