Fitch Pertahankan Peringkat INA di Level BBB, dengan Outlook Negatif

fitch
Fitch Ratings – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Fitch Ratings memutuskan untuk mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia Investment Authority (INA) pada level BBB, dengan prospek “Negatif”. Fitch juga mempertahankan peringkat utang jangka pendek valuta asing INA pada posisi F2.

Dalam keterangan Fitch Ratings yang dipublikasikan Rabu (16/9), peringkat Long-Term Foreign dan Local-Currency Issuer Default Ratings (IDR) INA tetap berada pada level BBB dengan outlook Negatif. Sementara itu, Fitch Ratings Indonesia mempertahankan National Long-Term Rating INA di level AAA(idn) dengan outlook Stabil dan National Short-Term Rating pada F1+(idn).

Fitch menyampaikan, penegasan peringkat tersebut mencerminkan penilaian bahwa dukungan luar biasa dari pemerintah Indonesia terhadap INA hampir pasti diberikan apabila diperlukan. Penilaian ini menghasilkan support score sebesar 45 dari maksimum 60 berdasarkan kriteria Government-Related Entities (GRE) Fitch, sehingga peringkat INA disetarakan dengan peringkat pemerintah Indonesia.

Lebih lanjut Fitch beranggapan, pengawasan dan pengambilan keputusan negara terhadap INA sangat kuat, karena mandat INA selaras dengan prioritas nasional. INA bertanggung jawab langsung kepada Presiden Indonesia, sedangkan Dewan Pengawas mencakup Menteri Keuangan dan Kepala Badan Pengaturan BUMN.

Dukungan pemerintah juga dinilai kuat, karena menjadi bagian penting dari pembentukan modal dan profil keuangan INA. Dukungan tersebut mencakup suntikan kas awal sebesar Rp30 triliun dan kontribusi ekuitas Rp45 triliun melalui kepemilikan saham pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI). Dividen dari kedua bank ini mencapai Rp4,6 triliun pada 2025 atau menyumbang 55 persen dari total pendapatan INA.

Pada sisi kinerja keuangan, Fitch mencatat profil keuangan INA menguat pada 2025. Pendapatan meningkat menjadi Rp8,5 triliun dari Rp5,9 triliun pada 2024, sedangkan laba bersih mengalami kenaikan menjadi Rp7,4 triliun dari Rp5,4 triliun. Pendapatan investasi meningkat menjadi Rp866,3 miliar dari Rp504,4 miliar, sedangkan leverage tetap rendah karena pertumbuhan portofolio terutama dibiayai melalui ekuitas, sumber daya internal dan dana investor.

Fitch menilai, peran INA dalam kebijakan pemerintah tetap sangat kuat, termasuk kontribusinya terhadap infrastruktur ekonomi strategis Indonesia. INA bersama mitra investornya menanamkan Rp15,7 triliun pada sektor-sektor strategis di sepanjang 2025, dengan mandat yang mencakup infrastruktur, energi, transformasi digital, kesehatan, serta material dan industri maju.

Patut diketahui, prospek “Negatif” pada peringkat jangka panjang INA mencerminkan outlook Negatif pemerintah Indonesia, sedangkan outlook Stabil pada peringkat nasional menunjukkan posisi kredit relatif INA di Indonesia tetap tidak berubah. (*)

Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *