Tekanan Kualitas Aset Berlanjut, NPL Bank Jatim Capai 4,24% dan Coverage Ratio 94,34%

ilustrasi
Ilustrasi – (Foto: RollingStock)

RollingStock.ID – Tekanan kualitas aset PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) masih berlanjut, tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) yang mencapai 4,24 persen dan coverage ratio yang turun menjadi 94,34 persen per Juli 2026.

Menurut Direktur Utama BJTM, Winardi Legowo, Bank Jatim mencatatkan NPL (bank only) pada Juli 2026 memang menurun dari 4,38 persen pada Semester I 2026 menjadi 4,24 persen. Namun, rasio tersebut masih lebih tinggi dibandingkan sebesar 3,88 persen pada akhir 2025. NPL BJTM sebesar 4,29 persen pada Kuartal I-2026 sebelum mencapai 4,38 persen pada Semester I-2026.

Sementara itu, coverage ratio tercatat sebesar 102,12 persen pada akhir 2025, kemudian menurun menjadi 100,07 persen pada Kuartal I-2026, kemudian sebesar 97,56 persen pada Semester I-2026 dan berlanjut menurun menjadi 94,34 persen pada Juli 2026.

Penurunan coverage ratio terjadi di tengah peningkatan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN), tercermin dari CKPN (bank only) meningkat dari Rp2,52 triliun pada 7M25 menjadi Rp2,74 triliun pada 7M26, alias meningkat 8,76 persen. Khusus CKPN kredit, nilainya mengalami kenaikan sebesar 9,06 persen dari Rp2,44 triliun menjadi Rp2,66 triliun.

Pada sisi credit cost, Bank Jatim mencatat rasio sebesar 2,12 persen pada Juli 2026 atau mencatatkan penurunan dari 2,17 persen pada Semester I-2026. Namun demikian, rasio ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2024 yang hanya sebesar 1,95 persen.

Winardi mengaku, peningkatan kualitas aset bermasalah —khususnya pada sektor UMKM— sebagai salah satu tantangan domestik di tengah pengetatan likuiditas dan daya beli masyarakat yang masih tertahan. Di tengah kondisi ini, BJTM menerapkan strategi yang berfokus pada pengelolaan likuiditas, pertumbuhan kredit secara selektif, efisiensi, peningkatan transaksi digital dan pengendalian kualitas aset sesuai dengan risk appetite perusahaan.

Guna dapat mengendalikan kualitas kredit, menurut Winardi, Bank Jatim menjalankan sejumlah langkah preventif dan kuratif. Program ini mencakup evaluasi kualitas kredit, penguatan fungsi account officer dan risk, restrukturisasi, pengelolaan kredit bermasalah, perbaikan proses bisnis, peningkatan kompetensi SDM, serta monitoring dan controlling secara berkala.

Tekanan kualitas aset tersebut berlangsung ketika penyaluran kredit Bank Jatim (bank only) juga mengalami kontraksi. Per Juli 2026, kredit tercatat sebesar Rp66,4 triliun atau menurun 2,6 persen (year-on-year). Data per Juli 2026, penyaluran kredit hanya senilai Rp66,46 triliun atau merosot dibandingkan sebesar Rp68,18 triliun pada Juli 2025.

Penurunan terutama terjadi pada kredit non-konsumer, yakni kredit korporasi melorot 25,86 persen secara tahunan dari Rp8,1 triliun menjadi Rp6 triliun. Kredit mikro menurun 0,81 persen menjadi Rp10,69 triliun, sedangkan kredit kecil dan menengah hanya bertumbuh 0,32 persen menjadi Rp13,44 triliun.

Sebaliknya, kredit konsumer masih bertumbuh 0,85 persen menjadi Rp36,33 triliun, kredit multiguna yang menjadi bagian terbesar segmen konsumer meningkat 1,88 persen menjadi Rp30,33 triliun, sedangkan kredit properti merosot 8,87 persen menjadi Rp3,007 triliun.

Memasuki Semester II-2026, Winardi menegaskan, BJTM akan tetap menempatkan kualitas aset sebagai bagian dari fokus penguatan fundamental. “Bank Jatim akan terus mengambil langkah yang tepat dan terukur untuk menjaga pertumbuhan bisnis dengan tetap mengedepankan kualitas aset. Kami optimistis berbagai strategi yang telah disiapkan dapat membuka peluang pertumbuhan baru dan membawa Bank Jatim mencapai kinerja yang melampaui target,” tuturnya.

Selain kualitas aset, strategi Semester II-2026 juga mencakup optimalisasi likuiditas, peningkatan dana murah, penguatan transaksi digital, ekspansi bisnis berbasis ekosistem, penyaluran kredit secara selektif, serta penguatan sinergi bersama anggota Kelompok Usaha Bank (KUB). (*)

Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *