BSI (BRIS) Rencanakan Rights Issue Maksimal 6,8 Miliar Saham, Potensi Dilusi Capai 12,85%

bris
Foto: RollingStock

RollingStock.ID – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) atau BSI berencana melakukan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PM-HMETD II) alias rights issue melalui penerbitan sebanyak-banyaknya 6,8 miliar saham. Rencana aksi korporasi ini berpotensi memicu dilusi kepemilikan pemegang saham yang tidak menebus haknya hingga sebesar 12,85 persen.

Berdasarkan keterbukaan informasi BRIS yang dipublikasikan Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (30/9), saham baru yang akan diterbitkan memiliki nilai nominal Rp500 per lembar yang berasal dari portepel BRIS. Saham ini akan dicatatkan di BEI dan memiliki hak yang sama, serta sederajat dengan saham Seri B lainnya, termasuk hak atas dividen.

Sejauh ini BRIS belum menetapkan harga pelaksanaan rights issue tersebut, namun manajemen BSI menyatakan bahwa perseroan dapat menerbitkan sebagian atau seluruh dari jumlah maksimum 6,8 miliar saham yang disetujui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB).

RUPS-LB BRIS dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 6 November 2026, dengan agenda Rapat mengusulkan persetujuan atas rencana PM-HMETD II. Pelaksanaan rights issue ini tentunya masih bergantung pada persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Manajemen BSI memperkirakan, rights issue bisa dilaksanakan dan diselesaikan pada Kuartal I-2027. Adapun pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD yang dimilikinya akan mengalami dilusi kepemilikan maksimal mencapai 12,85 persen.

Rencanannya, dana hasil rights issue —setelah dikurangi biaya-biaya emisi— akan digunakan seluruhnya untuk penyaluran pembiayaan dalam rangka mendukung pertumbuhan usaha BRIS. Adapun rincian final mengenai penggunaan dana dari aksi korporasi ini akan diungkapkan dalam prospektus PM-HMETD II.

Lebih lanjut manajemen BSI mengungkapkan, pelaksanaan rights issue bertujuan untuk memperkuat permodalan dan meningkatkan kapasitas penyaluran pembiayaan. Permodalan untuk mendukung bisnis BRIS pada 2027 diproyeksikan meningkat dari Rp51,07 triliun pada 2026 menjadi Rp64,41 triliun pada 2027.

Sejalan dengan penguatan permodalan tersebut, menajemen memperkirakan rasio kecukupan modal (CAR) BSI akan meningkat dari 20,38 persen pada 2026 menjadi 23,31 persen pada 2027. BRIS berharap, penguatan modal ini mampu mendukung pertumbuhan skala usaha secara berkelanjutan, termasuk mendukung upaya meningkatkan kelompok bank berdasarkan modal inti sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Manajemen BRIS menambahkan, penguatan permodalan tersebut diyakini bisa mendukung ekspansi bisnis dan pertumbuhan pembiayaan secara berkelanjutan. Dalam jangka pendek, peningkatan modal dapat mempengaruhi rasio profitabilitas, tetapi BSI memperkirakan rasio tersebut dapat pulih secara bertahap seiring dengan penyaluran dana ke aset produktif. (*)

Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *