BYAN dan DSSA Terperosok, Indeks Sektor Energi Anjlok 2,51% Saat IHSG Tersungkur 1,69%

bei5
Ilustrasi – (Foto: Milva Sary/RollingStock)

RollingStock.ID – Indeks sektoral Bursa Efek Indonesia (BEI) mayoritas bergerak melemah pada penutupan perdagangan Selasa (22/9), seiring dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok 1,69 persen ke level 6.277. Indeks sektor energi (IDXENERGY) mencatat penurunan terdalam, sedangkan indeks sektor barang konsumen non-primer (IDXCYCLIC) menjadi satu-satunya sektor yang menguat.

Berdasarkan data perdagangan saham di BEI, IDXENERGY tercatat anjlok 2,51 persen, terutama tertekan oleh BYAN yang merupakan emiten dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di sektor ini senilai Rp395 triliun. Harga saham Bayan Resources terperosok hingga 9,71 persen ke level 11.850.

Selain BYAN, saham DSSA sebagai emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar kedua di IDXENERGY senilai Rp188 triliun, harga sahamnya terperosok sebesar 4,39 persen ke level 980. Saham-saham di indeks sektor energi yang mengalami penurunan paling dalam juga tercatat nama BYAN dan diikuti HUMI (-8%).

Berikutnya, indeks sektor industri (IDXINDUST) terkoreksi 2,31 persen. ASII sebagai emiten dengan market cap terbesar senilai Rp193 triliun, mengalami koreksi harga saham sebesar 0,83 persen ke 4.780. Lalu, UNTR dengan market cap terbesar kedua di sektor ini senilai Rp90,7 triliun, harga sahamnya merosot 1,52 persen ke 24.325. Dua saham di IDXINDUST yang melemah terdalam adalah LABA (-9,7%) dan FOLK (-9,4%).

Indeks sektor properti dan real estat (IDXPROPERT) melorot 2,01 persen. MPRO sebagai emiten dengan market cap terbesar di sektor ini senilai Rp119 triliun, harga sahamnya melemah 0,83 persen ke 12.000. Diikuti PANI dengan market cap terbesar kedua di IDXPROPERT senilai Rp90,5 triliun, yang harga sahamnya merosot 3,77 persen ke 4.980. Saham dengan koreksi terdalam di sektor ini, yaitu BBSS yang mengalami ARB (-14,7%) dan RISE (-13,5%).

Selanjutnya, indeks sektor barang baku (IDXBASIC) terpantau merosot 1,97 persen, dengan pelemahan paling besar terjadi pada saham GDST (-12,2%) dan BMSR (-9,5%). Indeks sektor teknologi (IDXTECHNO) terkoreksi 1,59 persen, dengan penurunan paling signifikan terjadi pada CASH yang mengalami ARB (-9,8%) dan UVCR (-8,5%).

Kemudian diikuti indeks sektor barang konsumen primer (IDXNONCYC) yang melemah 1,48 persen, dengan koreksi terdalam terjadi pada saham COCO (-9,9%) dan JAWA (-9,7%). Indeks sektor transportasi dan logistik (IDXTRANS) mengalami penurunan 1,35 persen, dengan pelemahan paling tajam terjadi pada SAFE yang mencatatkan ARB (-9,6%) dan MITI (-7,5%).

Indeks sektor keuangan (IDXFINANCE) melemah 0,85 persen, dengan koreksi terdalam terjadi pada saham PADI (-6,5%) dan BPII (-5,1%). Indeks sektor kesehatan (IDXHEALTH) menurun 0,71 persen, dengan pelemahan terbesar pada SOHO (-8,9%) dan DGNS (-6,5%). Indeks sektor infrastruktur (IDXINFRA) terkoreksi 0,66 persen, dengan penurunan terdalam pada ACST yang mengalami ARB (-9,7%) dan KOKA (-5,4%).

Berbeda dengan sektor lainnya, indeks sektor barang konsumen non-primer (IDXCYCLIC) justru menguat 0,33 persen dan menjadi satu-satunya dari 11 indeks sektoral yang berakhir di zona hijau. Penguatan indeks ini antara lain ditopang MGLV sebagai pemilik market cap Rp30,4 triliun, yang harga sahamnya melonjak 6,49 persen ke level 16.000.

Selain MGLV, BUVA sebagai konstituen IDXCYCLIC dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp17,2 triliun, harga sahamnya terpantau melejit 2,94 persen ke level 700. Adapun dua saham di sektor ini yang mengalami kenaikan harga paling signifikan adalah FORU yang mencatatkan ARA (+34,4%) dan DFAM (+19,6%). (*)

Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *