Kinerja BBNI di 1H26 Masih Dihantui NPL 1,9% dan Outlook Negatif dari Moody’s Maupun Fitch

bbni
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Kinerja PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) pada Semester I-2026 masih dibayangi rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 1,9 persen, serta outlook negatif dari dua lembaga pemeringkat global, yakni Moody’s dan Fitch Ratings.

Berdasarkan keterangan resmi di materi Public Expose BBNI, perseroan mencatatkan NPL (bank-only) 1,9 persen pada Juni 2026 alias tidak berubah dibandingkan Juni 2025. Pada saat yang sama, Moody’s memberikan peringkat Baa2 dengan outlook “Negatif”, sedangkan Fitch Ratings menyematkan rating BBB dengan prospek “Negatif”. Besok (9/9), BBNI akan melaksanakan Public Expose Live 2026 yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Meski kinerja 1H26 masih dihantui sejumlah sentimen negatif, namun BNI bisa mencatatkan sejumlah perbaikan pada indikator kualitas aset lainnya. Loan at Risk (LaR) menurun menjadi 8,1 persen pada Juni 2026 dari 11 persen pada setahun sebelumnya atau berkurang 291 basis poin secara tahunan. Pembentukan NPL baru juga menurun 26 persen (year-on-year) menjadi Rp5,8 triliun pada 1H26.

Pada 1H26, hapus buku kredit BBNI tercatat Rp4,5 triliun, dibandingkan Rp7,9 triliun pada 1H25. Manajemen BNI menyampaikan bahwa tren penurunan hapus buku tersebut sejalan dengan perbaikan kualitas aset yang didukung pencadangan secara konservatif.

Dari sisi pencadangan, Loan Loss Reserve (LLR) terhadap kredit BNI berada di level 3,8 persen pada Juni 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata peers yang sebesar 3,6 persen pada Mei 2026. Dalam materi Public Expose BBNI menyebutkan bahwa level pencadangan tersebut masih memadai.

Catatan kualitas aset itu terjadi di saat BBNI mencatat ekspansi kredit yang cukup kuat, tercermin dari kredit per Juni 2026 mencapai Rp968,5 triliun atau meningkat atau 24 persen dibandingkan pada Juni 2025 sebesar Rp778,7 triliun pada Juni 2025. Pertumbuhan kredit ini terutama ditopang segmen wholesale yang mencakup corporate dan enterprise.

Pada segmen wholesale, kredit bertumbuh 33 persen (y-o-y) hingga Juni 2026 yang disertai kenaikan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 39 persen (y-o-y), fee income sebesar 24 persen (y-o-y) dan laba sebelum pajak 23 persen (y-o-y). Secara keseluruhan, DPK yang dibukukan BBNI bertumbuh 22 persen (y-o-y) atau bertambah sebesar Rp200,3 triliun.

Selama enam bulan pertama tahun ini, BBNI membukukan laba bersih Rp10,8 triliun atau hanya bertumbuh 7 persen dibandingkan Rp10,1 triliun pada 1H25. Pertumbuhan ini terjadi ketika laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) meningkat 14,5 persen menjadi Rp18,5 triliun.

Menyoal prospek laba di sepanjang 2026, manajemen menyampaikan bahwa konsensus Bloomberg per 27 Juli 2026 memperkirakan bahwa laba bersih BBNI bisa mencapai Rp21,3 triliun. Dengan realisasi laba bersih Rp10,8 triliun pada 1H26, maka pencapaian ini setara dengan 51 persen dari konsensus.

Selain Moody’s dan Fitch yang memberikan outlook “Negatif” pada BBNI, S&P Global Ratings memberikan peringkat BBB dengan prospek “Stabil”. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mempertahankan peringkat AAA dengan outlook di posisi “Stabil”. (*)

Penulis: Kafka D Eiren
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *