Kinerja PP Presisi (PPRE) di Semester I-2026 Berbalik Rugi Rp162,79 Miliar, Defisit Tembus Rp1 Triliun

RollingStock.ID – Selama enam bulan pertama tahun ini, PT Pembangunan Perumahan Presisi Tbk (PPRE) menderita rugi bersih mencapai Rp162,79 miliar atau berbalik dari laba Rp4,63 miliar pada periode yang sama di 2025. Dengan demikian, per 30 Juni 2026 jumlah defisit saldo laba membengkak 19,19 persen menjadi Rp1,01 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan PPRE di Semester I-2026, perseroan mencatat rugi tahun berjalan Rp88,69 miliar alias berbalik dari laba tahun berjalan senilai Rp75,4 miliar pada Semester I-2025. Adapun besaran rugi tahun berjalan yang diatribusikan ke pemilik entitas induk pada 1H26 mencapai Rp162,79 miliar atau berbanding terbalik dengan kondisi di 1H25 yang meraih laba bersih Rp4,63 miliar.
Pendapatan PPRE pada paruh pertama tahun ini tercatat Rp2,23 triliun atau meningkat 35,19 persen dibandingkan Rp1,65 triliun pada periode yang sama di 2025. Sayangnya, beban pokok pendapatan di 1H26 melonjak 50,34 persen menjadi Rp1,99 triliun dari Rp1,33 triliun pada 1H25. Kondisi ini diikuti penurunan laba bruto 1H26 hingga sebesar 27,31 persen (year-on-year) menjadi Rp233,69 miliar.
Pada periode Januari-Juni 2026, PP Presisi juga mencatatkan kerugian penurunan nilai Rp57,94 miliar atau meroket 1.751,8 persen dibandingkan Rp3,13 miliar pada Januari-Juni 2025. Kerugian penurunan nilai ini terdiri atas piutang usaha Rp42,04 miliar, piutang retensi Rp11,02 miliar, serta tagihan bruto pemberi kerja Rp5,23 miliar.
Pada sisi ekuitas, PPRE membukukan saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya tercatat defisit (akumulasi rugi) Rp1,01 triliun per 30 Juni 2026 alias membengkak 19,19 persen dibandingkan defisit per 31 Desember 2025 yang senilai Rp848,23 miliar. Adapun total ekuitas hingga akhir Semester I-2026 senilai Rp2,04 triliun atau merosot 4,18 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 sebesar Rp2,13 triliun.
Sementara itu, total liabilitas anak usaha PT PP (Persero) Tbk (PTPP) ini per 30 Juni 2026 terpantau bisa ditekan 8,04 persen (year-to-date) menjadi Rp4,28 triliun, namun masih didominasi kewajiban jangka pendek pendek yang mencapai Rp3,2 triliun. Jumlah liabilitas jangka Panjang hingga akhir Semester I-2026 tercatat Rp1,07 triliun atau melonjak dari Rp553,49 miliar pada 31 Desember 2025.
Per 30 Juni 2026, total aset entitas BUMN ini tercatat Rp6,32 triliun atau menurun 6,83 persen (y-t-d), dengan jumlah kas dan setara kas tersisa Rp108,84 miliar alias ambles 57,22 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2025 yang mencapai Rp254,39 miliar. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary