TLKM Lampaui Batas Atas Target Pendapatan 2026, Semester II Fokus pada Margin dan Transformasi

RollingStock.ID – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) melaporkan, pada Semester I-2026 perseroan berhasil melampaui batas atas proyeksi pertumbuhan pendapatan (normalized) di sepanjang 2026. Pada paruh pertama tahun ini, pendapatan konsolidasian mencapai Rp75,88 triliun atau bertumbuh 3,9 persen (year-on-year), lebih tinggi dibandingkan dengan proyekksi pertumbuhan revenue normalized FY26 sebesar 1-3 persen.
Menurut manajemen TLKM dalam keterangan resmi yang dipublikasikan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (2/9), meskipun pertumbuhan pendapatan sudah melampaui batas atas panduan tahunan, perseroan tetap perlu meningkatkan profitabilitas pada Semester II-2026 untuk memenuhi target margin EBITDA (normalized) Tahun Buku 2026 di atas 50 persen.
Selama enam bulan pertama tahun ini, TLKM mencatatkan EBITDA sebesar Rp37,5 triliun atau meningkat 3,8 persen (y-o-y) dengan margin 49,4 persen. Laba bersih di 1H26 mencapai Rp10,6 triliun atau bertumbuh 1,4 persen secara tahunan. Sementara itu, rasio capex-to-revenue (C2R) di 1H26 mencapai 14,2 persen, dibandingkan proyeksi FY26 sekitar 17-19 persen.
Memasuki Semester II-2026, fokus TLKM beralih pada penguatan profitabilitas, realisasi belanja modal dan percepatan transformasi bisnis. Manajemen menilai, kinerja 2H26 menjadi penting bagi Telkom untuk mempertahankan momentum pertumbuhan pendapatan, sekaligus mencapai target margin EBITDA dan rasio capex yang telah ditetapkan untuk Tahun Buku 2026.
Selain kinerja keuangan, agenda utama TLKM di sepanjang Semester II-2026 adalah melanjutkan transformasi bisnis infrastruktur melalui InfraNexia. Manajemen menyebut Tahap-1 InfraNexia sudah rampung, mencakup lebih dari 50 persen aset dan bisnis fiber terpilih dengan nilai transaksi Rp35,8 triliun. Selanjutnya adalah proses carve-out Tahap-2, yang mencakup pemindahan sisa aset dan kontrak yang ditargetkan selesai pada paruh kedua tahun ini.
Adapun InfraNexia diposisikan sebagai InfraCo yang menyediakan layanan fiber wholesale secara carrier neutral, baik kepada pelanggan eksternal maupun internal Telkom Group. Setelah penyelesaian tahap transformasi tersebut, TLKM menargetkan pendapatan eksternal InfraNexia mencapai 25-30 persen.
Langkah tersebut merupakan bagian dari transformasi TLKM menuju model Strategic HoldCo, bahkan perseroan juga sedang melakukan penyederhanaan struktur bisnis melalui divestasi, penutupan dan penggabungan usaha, sekaligus memfokuskan sumber daya pada bisnis inti.
Lebih lanjut manajemen TLKM mengungkapkan, lebih dari 94 persen capex diarahkan ke bisnis inti B2C dan B2B infrastruktur. Perseroan juga mencatat operating cash flow (OCF) pada 1H26 sebesar Rp34,86 triliun atau meningkat 7 persen dari Rp32,57 triliun pada 1H25. Free cash flow to the firm (FCFF) tercatat Rp44,19 triliun alias bertumbuh 7 persen (y-o-y).
Data Center Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Mulai 2027
Selain bisnis seluler, TLKM juga menempatkan infrastruktur digital —khususnya data center— sebagai salah satu sumber value creation berikutnya. Pada 1H26, kapasitas efektif bisnis data center Telkom mencapai 49,9 MW dan pendapatan PT Telkom Data Ekosistem (NeutraDC) mencapai Rp867 miliar atau bertumbuh 11 persen (y-o-y) alias meningkat 17 persen (q-o-q).
Lebih lanjut manajemen Telkom menyampaikan bahwa perseroan juga menyiapkan ekspansi lebih lanjut mulai 2027. Data center Cikarang Tahap-1 berkapasitas total 21,5 MW, sedangkan Tahap-2 akan dimulai pada 2027. Adapun di Batam, Tahap-1 dengan kapasitas total 18 MW juga ditargetkan pada 2027. Dalam jangka lebih panjang, menurut manajemen perseroan, NeutraDC menargetkan kapasitas mencapai 300 MW pada 2030.
Saat ini bisnis data center TLKM di Cikarang memiliki tingkat okupansi 96 persen, sedangkan fasilitas di Singapura mencapai 90 persen. Adapun tiga lokasi 3S DC dengan kapasitas 16 MW mencatat tingkat okupansi 78 persen. Sekadar informasi, angka okupansi tersebut dihitung berdasarkan kapasitas yang telah ditagihkan kepada pelanggan. (*)
Penulis: Rahmat A Candra
Editor: Milva Sary