Kelangsungan Usaha WEGE Hadapi Ketidakpastian, Kerugian di 1H26 Capai Rp89,89 Miliar

RollingStock.ID – PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WEGE) menghadapi ketidakpastian material terkait kelangsungan usahanya. Mengacu pada Catatan atas Laporan Keuangan (CALK) Semester I-2026, perseroan menyatakan bahwa kondisi rugi bersih dan arus kas operasional negatif dapat menyebabkan keraguan signifikan atas kemampuan grup untuk mempertahankan kelangsungan usaha.
Pada CALK 49 tentang Kelangsungan Usaha, WEGE tercatat mencatat rugi bersih sebesar Rp89,89 miliar per 30 Juni 2026, berbalik dari laba bersih Rp400,19 juta pada periode yang sama di 2025. Pada saat yang sama, arus kas operasional perseroan tercatat negatif Rp195,79 miliar atau membaik 68,17 persen dibandingkan negatif Rp615,17 miliar pada Semester I 2025.
CALK juga menyatakan bahwa kondisi tersebut mengindikasikan adanya ketidakpastian material yang dapat menyebabkan keraguan signifikan atas kemampuan grup untuk mempertahankan kelangsungan usaha. Kendati demikian, laporan keuangan konsolidasian WEGE tetap disusun dengan asumsi bahwa grup akan melanjutkan operasi sebagai entitas yang bisa mempertahankan kelangsungan usaha.
Manajemen WEGE mengaku telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengatasi isu kelangsungan usaha tersebut. Langkah yang ditempuh antara lain, melakukan proses pemilihan proyek secara lebih selektif dengan memilih proyek yang pembayarannya dilakukan secara bulanan, meningkatkan pengendalian internal atas PDPK untuk menghindari saldo PDPK secara signifikan, serta menyelesaikan sejumlah proyek yang belum selesai hingga tahun ini.
Lebih lanjut manajemen WIKA Gedung meyakini, kemampuan grup untuk mempertahankan kelangsungan usaha dapat diatasi melalui berbagai langkah tersebut. CALK juga menyatakan bahwa laporan keuangan konsolidasian tidak mencakup penyesuaian yang mungkin harus dilakukan sebagai akibat dari kondisi ketidakpastian tersebut.
Selama enam bulan pertama tahun ini, pendapatan WEGE tercatat anjlok 55,4 persen menjadi Rp404,85 miliar dari Rp907,81 miliar pada periode yang sama di 2025. Penurunan omzet ini terutama berasal dari jasa konstruksi, seperti pendapatan jasa konstruksi di Semester I-2026 melorot 59,12 persen menjadi Rp357,47 miliar dari Rp874,39 miliar pada Semester I-2025.
Seiring penurunan pendapatan, beban pokok pendapatan di 1H26 tercatat Rp382,44 miliar atau menurun 52,2 persen dibandingkan 1H25 sebesar Rp800,10 miliar. Penurunan pendapatan yang lebih besar daripada penurunan beban pokok membuat laba bruto WEGE di Semester I-2026 ambles 79,19 persen menjadi Rp22,41 miliar dari Rp107,72 miliar pada Semester I-2025.
Beban usaha WEGE di paruh pertama tahun ini terpantau membengkak 11,62 persen (y-o-y) menjadi Rp89,28 miliar. Beban pegawai yang menjadi komponen terbesar tercatat melonjak 16,4 persen menjadi Rp71,24 miliar di Semester I-2026 dari Rp61,2 miliar pada Semester I-2025.
Pada periode Januari-Juni 2026, beban umum hanya menurun 2,06 persen (y-o-y) menjadi Rp17,42 miliar, beban pemasaran lebih rendah 37,52 persen (y-o-y) menjadi Rp622,09 juta. Namun pada pos pendapatan lainnya, tercatat meningkat 47,53 persen (y-o-y) menjadi Rp46,55 miliar, terutama berasal dari pemulihan nilai aset keuangan sebesar Rp34,1 miliar alias naik 48,32 persen (y-o-y).
Pendapatan bunga deposito dan jasa giro di Semester I-2026 tercatat anjlok 42,02 persen (y-o-y) menjadi Rp3,81 miliar, sedangkan pendapatan lainnya meningkat 334,6 persen (y-o-y) menjadi Rp8,64 miliar. Sayangnya, beban lainnya justru membengkak 101,03 persen (y-o-y) menjadi Rp65,07 miliar.
Pada Semester I-2026, emiten BUMN tercatat menderita rugi sebelum pajak sekaligus rugi bersih tahun berjalan mencapai Rp89,89 miliar. Adapun rugi bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk di 1H26 mencapai Rp89,75 miliar, berbalik dari laba Rp456,42 juta pada Semester I-2025.
Per 30 Juni 2026, total ekuitas WEGE senilai Rp1,88 triliun atau merosot 4,57 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 sebesar Rp1,97 triliun. Hingga akhir Semester I-2026, total liabilitas tercatat sebesar Rp1,85 triliun atau bisa ditekan 10,95 persen (year-to-date), namun masih didominasi kewajiban jangka pendek yang mencapai Rp1,53 triliun.
Total aset WEGE per 30 Juni 2026 tercatat sebesar Rp3,73 triliun alias menurun 7,84 persen (y-t-d), dengan jumlah kas dan setara kas tersisa Rp123,28 miliar atau nyungsep 68,48 persen dibandingkan posisi per 31 Desember 2026 yang mencapai Rp391,13 miliar.
Mengutip cash flow WEGE di periode Januari-Juni 2026, arus kas operasi perseroan tercatat negatif Rp195,79 miliar. Pada aktivitas investasi, anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) ini mencatat arus kas keluar (netoo) sebesar Rp51,23 miliar, berbalik dari arus kas masuk Rp43,99 miliar pada periode Januari-Juni I 2025.
Sementara itu, arus kas dari aktivitas pendanaan di Semester I-2026 mencatatkan arus kas keluar bersih sebesar Rp20,83 miliar atau membaik 93,01 persen dibandingkan Semester I-2025 yang membukukan arus kas keluar mencapai Rp298,24 miliar. (*)
Penulis: Syafril JA Surya
Editor: Milva Sary