ASII Masih Punya Rp19 Triliun untuk Capex dan Investasi Hingga Akhir 2026

asii
PT Astra International Tbk (ASII) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – Presiden Direktur PT Astra International Tbk (ASII), Rudy mengungkapkan bahwa perseroan masih memiliki Rp19 triliun dari total alokasi belanja modal (capex) dan investasi yang dapat direalisasikan pada Semester II-2026, setelah ASII mencatatkan realisasi sebesar Rp16,9 triliun pada Semester I-2026.

Menurut Rudy dalam Laporan Hasil Public Expose ASII yang dipublikasikan Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (15/9), perseroan mengalokasikan Rp35,6 triliun untuk capex dan investasi di sepanjang 2026. Alokasi ini terdiri atas Rp15 triliun untuk maintenance capex dan sebesar Rp20 triliun untuk investasi. “Hingga semester pertama 2026, realisasi capex dan investasi mencapai Rp16,9 triliun,” katanya.

Dari realisasi tersebut, sebesar Rp11,7 triliun terutama digunakan untuk akuisisi tambang emas PT Arafura Surya Alam oleh PT United Tractors Tbk (UNTR). Sementara itu, senilai Rp5,2 triliun digunakan untuk kebutuhan capex rutin, khususnya pembelian alat berat untuk bisnis kontraktor pertambangan.

Dengan demikian, jelas Rudy, dari total alokasi capex dan investasi sebesar Rp35,6 triliun dikurangi realisasi Rp16,9 triliun hingga Semester I 2026, maka ASII masih memiliki Rp18,7 triliun atau dibulatkan menjadi Rp19 triliun untuk direalisasikan hingga akhir tahun ini.

Lebih lanjut dia mengatakan, sebagian besar sisa alokasi tersebut akan diarahkan pada tiga bisnis inti Astra, yakni otomotif, financial services, serta mining solutions & heavy equipment (MSHE). Ketiga bisnis ini diketahui secara kolektif menyumbang hingga sebesar 90 persen terhadap laba ASII.

Salah satu contoh investasi pada bisnis inti tersebut adalah rencana ASII meningkatkan kepemilikan saham PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) melalui penawaran tender sukarela (VTO). Astra menawarkan pembelian saham AUTO senilai Rp3.600 per lembar untuk meningkatkan kepemilikan sebesar 4,95 persen, dengan nilai transaksi Rp858 miliar. Setelah tender offer ini, maka kepemilikan ASII di AUTO bisa meningkat dari sekitar 80 persen menjadi 84,95 persen.

Rudy mengungkapkan, VTO tersebut mencerminkan keyakinan ASII terhadap fundamental dan prospek AUTO yang dianggap memiliki kinerja solid, serta arus kas kuat untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang. Dia menegaskan, pendanaan transaksi tersebut berasal dari kas internal perseroan.

Dia menambahkan, ASII tetap membuka peluang untuk melakukan investasi maupun pertumbuhan anorganik sepanjang memenuhi kriteria alokasi modal perseroan, antara lain memiliki keterkaitan strategis yang kuat, memberikan imbal hasil menarik dan bisa memperkuat ekosistem bisnis Astra.

Sementara itu, bisnis yang masuk dalam kategori Wider Businesses akan dievaluasi secara individual. ASII dapat mengembangkan bisnis yang memiliki kesesuaian strategis dan mampu memperkuat ekosistem, tetapi juga membuka kemungkinan realokasi modal apabila bisnis tersebut tidak lagi memenuhi kriteria yang ditetapkan perseroan.

Dalam kebijakan alokasi modal, kata Rudy, ASII terlebih dahulu memprioritaskan maintenance capex untuk menjaga keberlangsungan dan kinerja bisnis. Prioritas berikutnya adalah pembagian dividen dengan target payout ratio sekitar 45-50 persen. Setelah kebutuhan tersebut terpenuhi, modal dapat dialokasikan untuk investasi yang dinilai menarik dan memenuhi kriteria perseroan.

Manajemen mengaku, tekanan pada bisnis pertambangan terutama berasal dari pembatasan volume produksi akibat RKAB batubara. Menurut Direktur ASII, Frans Kesuma, pada awalnya RKAB batubara menurun 25 persen dibandingkan setahun sebelumnya. Usai direvisi, RKAB meningkat 5 persen dari total volume yang ditargetkan pelanggan, sehingga secara keseluruhan penurunannya menjadi 20 persen dibandingkan volume setahun sebelumnya.

“Sesuai dengan target RKAB, kami tidak dapat meningkatkan volume produksi, sehingga secara revenue diperkirakan menurun. Untuk mengantisipasi hal tersebut, kami berencana untuk fokus pada peningkatan produktivitas dan penurunan biaya operasi pertambangan agar dampak terhadap profit dapat diminimalkan,” ucap Frans.

Pada Semester II 2026, Rudy memperkirakan, bisnis otomotif dan jasa keuangan tetap resilien. Sementara itu, bisnis MSHE disebut berpotensi membaik, seiring dengan kembali beroperasinya tambang emas Martabe pada Mei 2026 dan adanya peluang peningkatan produksi batubara setelah revisi RKAB pada Semester II-2026. (*)

Penulis: Rahmat Adi Candra
Editor: Milva Sary

1 thought on “ASII Masih Punya Rp19 Triliun untuk Capex dan Investasi Hingga Akhir 2026”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *