PACK Ungkap Rencana Aksi Korporasi untuk Tingkatkan Kapasitas Bijih Nikel

RollingStock.ID – PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) mengungkapkan, saat ini perseroan sedang mempertimbangkan aksi korporasi dalam jangka pendek untuk meningkatkan kapasitas produksi bijih nikel. Sayangnya, manajemen belum menyampaikan bentuk aksi korporasi tersebut, namun langkah ini disebut sejalan dengan strategi PACK untuk memperluas bisnis hulu nikel.
Berdasarkan keterangan resmi manajemen PACK dalam laporan hasil Public Expose Insidentil yang dikutip Senin (14/9), perseroan mengaku sedang mempertimbangkan pelaksanaan aksi korporasi. “Perseroan sedang mempertimbangkan untuk melakukan aksi korporasi. Dalam jangka pendek, perseroan berencana meningkatkan kapasitas bijih nikel,” kata manajemen PACK dalam laporan hasil paparan publik tersebut.
Sejauh ini manajemen belum dapat memberikan informasi lebih lanjut mengenai bentuk aksi korporasi tersebut. Kendati demikian, manajemen PACK menyatakan, apabila aksi korporasi dalam bentuk apa pun akan dilakukan, maka perseroan akan mematuhi seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.
Rencana tersebut sejalan dengan strategi masa depan PACK, yang sebelumnya menetapkan “Expand Upstream Nickel Production Capacity” sebagai strategi jangka pendek. Strategi ini diarahkan untuk mempercepat produksi nikel melalui kombinasi pertumbuhan organik dan ekspansi anorganik yang sudah ditargetkan perseroan.
Selain meningkatkan kapasitas produksi hulu, manajemen PACK juga mengaku bahwa perseroan menyiapkan strategi membangun integrasi nikel dari hulu hingga hilir dalam jangka pendek-menengah. Bahkan, manajemen menyebutkan, pihaknya akan mengintegrasikan produksi bijih nikel dengan aktivitas pemurnian dan material untuk membangun posisi sebagai pemain yang terintegrasi dalam rantai nilai nikel.
Dalam jangka menengah-panjang, menurut manajemen PACK, perseroan juga menargetkan diversifikasi ke bisnis mineral lainnya. Strategi ini mencakup ekspansi ke pengolahan sumber daya mineral lain pada segmen hulu maupun midstream untuk memperluas basis sumber daya dan menciptakan peluang pertumbuhan jangka panjang.
Langkah memperkuat bisnis nikel tersebut sudah didukung oleh kepemilikan perseroan pada dua perusahaan tambang nikel di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Melalui anak usahanya, PACK telah mengakuisisi kepemilikan minoritas di PT Karyatama Konawe Utara (KKU) dan PT Konutara Sejati (KS). Investasi ini disebut untuk mendukung ekspansi sumber daya dan pasokan bahan baku yang memungkinkan integrasi lebih lanjut dengan operasi midstream.
Sekadar informasi, PACK memiliki 34,5 persen saham KKU dan sebesar 30 persen saham KS. Adapun KKU berlokasi di Konawe Utara dengan area 3.119 hektare dan memiliki RKAB 2026 sebesar 6 juta ton, sedangkan KS memiliki area 1.923 hektare dengan RKAB 2026 sebesar 4 juta ton. Masa berlaku IUPOP KKU tercatat hingga 2035 dan IUPOP KS hingga 2049, dengan catatan dapat diperpanjang.
Manajemen PACK menyampaikan, perseroan sedang berevolusi dari bisnis yang sebelumnya berakar pada sektor kemasan menjadi perusahaan investment holding. Melalui lima anak perusahaan, PACK memperluas bisnis ke sektor perdagangan dan pertambangan nikel.
Dari sisi kinerja keuangan, PACK membukukan penjualan neto Rp213,0 miliar pada Semester I-2026 atau melonjak 937 persen (year-on-year). Laba bruto 1H26 tercatat meningkat 89 persen (y-o-y) menjadi Rp6,3 miliar, namun laba usaha (EBIT) tercatat negatif Rp12,3 miliar, berbalik dari positif Rp3,4 miliar pada 1H25. PACK mencatatkan laba bersih 1H26 sebesar Rp190,7 miliar atau berbalik dari rugi bersih Rp14,4 miliar pada 1H25.
Pada sisi neraca, total aset PACK per 30 Juni 2026 mencapai Rp5,27 triliun atau meningkat 76 persen dibandingkan per 31 Desember 2025 sebesar Rp3. Hingga akhir Semester I-2026, total liabilitas tercatat bisa ditekan 97 persen (year-to-date) menjadi Rp73,9 miliar dan total ekuitas melonjak 4.824 persen (y-t-d) menjadi Rp5,19 triliun.
Terkait cash flow di periode Januari-Juni 2026, PACK membukukan arus kas yang diperoleh dari aktivitas operasi senilai Rp155,2 miliar, sedangkan arus kas yang digunakan untuk aktivitas investasi mencapai Rp4 triliun. Pada saat yang sama, arus kas yang diperoleh dari aktivitas pendanaan mencapai Rp4,9 triliun. Maka, kas dan setara kas di bank per 30 Junin 2026 meningkat menjadi Rp805,9 miliar dari Rp65,4 miliar pada 31 Desember 2025. (*)
Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary