Minat Investor Meningkat, SSIA Perkuat Pengembangan Subang Smartpolitan

PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) – (Foto: Istimewa)

RollingStock.ID – PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) berkomitmen untuk terus memperkuat pengembangan Subang Smartpolitan di tengah minat investor terhadap kawasan industri ini mengalami peningkatan dan menunjukkan perkembangan positif.

Menurut Presiden Direktur SSIA, Johannes Suriadjaja saat pelaksanaan Public Expose Live 2026, Senin (7/9), minat investor terhadap Subang Smartpolitan tetap menunjukkan perkembangan positif meskipun kondisi ekonomi dan geopolitik global masih menghadirkan berbagai tantangan. Dia menegaskan, SSIA secara konsisten mempersiapkan infrastruktur untuk mendukung pengembangan kawasan tersebut.

“Di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik global, kami bersyukur SSIA masih mendapatkan kepercayaan dari investor global sebagai salah satu tujuan investasi mereka. Kami terus mempersiapkan infrastruktur yang diperlukan agar Subang Smartpolitan tidak hanya menjadi rumah bagi industri manufaktur, tetapi juga dapat berkembang menjadi pusat industri bernilai tambah tinggi, pusat inovasi, serta kegiatan penelitian dan pengembangan di Indonesia,” papar Johannes.

Dia menyampaikan, SSIA menempatkan Subang Smartpolitan sebagai katalis utama perseroan, sedangkan kendaraan listrik (EV) sebagai katalis masa depan bagi perseroan. Secara jangka panjang, ujar Johannes, pihaknya menargetkan peningkatan recurring income (pendapatan berulang) melalui infrastruktur Subang dan layanan pendukung di kawasan tersebut.

Subang Smartpolitan merupakan proyek terbesar SSIA dengan total izin lokasi mencapai 2.717 hektare. Kawasan ini dikembangkan dalam enam fase, dengan fase pertama dimulai pada Kuartal IV-2020 yang mencakup area komersial, industri, residensial, leisure, pendidikan, serta infrastruktur dan fasilitas pendukung.

Pengembangan kawasan juga ditopang oleh peningkatan konektivitas, seperti akses tol sementara KM 87+950 Jalan Tol Cipali yang menghubungkan langsung Jalan Tol Cipali dengan Subang Smartpolitan di Cipeundeuy, Subang, mulai beroperasi pada 21 Agustus 2026. Akses ini ditujukan untuk menyediakan akses logistik yang lebih efisien, mempercepat pengembangan industri, meningkatkan pelayanan publik dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Lebih lanjut Johannes menyampaikan, Jalan Tol Akses Patimban ditargetkan mulai beroperasi pada Semester I-2027. Interchange Cipeundeuy akan menghubungkan Subang Smartpolitan dengan Jalan Tol Akses Patimban, dengan ruas tol yang memiliki panjang 37,05 kilometer dan terdiri atas lima seksi.

Pada sisi penjualan lahan, marketing sales kawasan industri SSIA pada Semester I-2026 mencatat penjualan Subang Smartpolitan seluas 2,2 hektare, dengan total nilai penjualan seluruh kawasan industri mencapai Rp196 miliar. Berdasarkan accounting sales, penjualan lahan Subang Smartpolitan mencapai 52,1 hektare pada Semester I-2026, dibandingkan 8,3 hektare pada Semester I-2025. Total nilai accounting sales mencapai Rp1,08 triliun pada Semester I-2026 atau melambung dibandingkan Semester I-2025 senilai Rp167 miliar.

Perkembangan tersebut juga tercermin pada kinerja keuangan SSIA, yang pada 1H26 meraih pendapatan konsolidasian Rp3,35 triliun atau melonjak 58,4 persen (year-on-year). Lonjakan ini terutama didorong pengakuan penjualan yang signifikan pada segmen properti. Laba bruto di 1H26 mencapai Rp1,09 triliun, EBITDA sebesar Rp692,5 miliar dan laba bersih senilai Rp262,6 miliar.

Johannes optimistis, SSIA bisa mencapai pertumbuhan pendapatan sebesar 60 persen secara tahunan pada 2026. Target ini akan didukung penjualan dan pengakuan pendapatan lahan yang tetap kuat di Subang Smartpolitan, serta kinerja segmen perhotelan yang terus menunjukkan tren positif.

Untuk kawasan Subang Smartpolitan, BYD telah meresmikan fasilitas manufaktur kendaraan energi baru pertamanya di Indonesia pada 3 September 2026. Fasilitas ini berdiri di atas lahan seluas 126 hektare dengan kapasitas produksi mencapai 150.000 kendaraan per tahun.

Kehadiran fasilitas manufaktur BYD juga mencakup pengembangan ekosistem kendaraan energi baru. Manajemen BYD sempat menyebutkan, ekosistemnya di Indonesia melibatkan lebih dari 200 mitra rantai pasok dan menciptakan lebih dari 5.000 lapangan kerja lokal. (*)

Penulis: Gavin D Varyn
Editor: Milva Sary

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *